Selasa, 02 November 2010

Pesona Sensualitas di Tempat Peribadatan

Kabut menggelayut. Angin yang bergulung tak kuasa mengusirnya. Puncak gunung masih bersembunyi dari pandangan. Berada di sisi barat lereng Gunung Lawu, di ketinggian sekitar 910 Meter di atas permukaan laut, di Desa Mberjo, KecamatanNgargoyoso, Karang Anyar, Jateng, siang tiba.

Namun udara masih saja menusuk tulang. Saya yang terbiasa dengan udara panas Kalimantan harus bertameng jaket tebal sebagai pelindung rasa dingin yang membuat ngilu di persendian itu. Saat musim hujan, kabut tebal menyelimuti puncak Lawu dan desa-desa di lerengnya. Di kawasan ini, matahari tak berdaya.

Di Desa Mberjo persawahan terasering menawan kala dipandang dari ketinggian. Satu candi peninggalan zaman Hindu kokoh berdiri di tengah kabut. Candi Sukuh, begitu namanya. Karena keunikan reliefnya, orang sering menyebut Candi Sukuh sebagai saru (beraroma porno).

Sukuh merupakan candi Hindu yang dibangun di akhir abad ke 15, di penghujung kejayaan Majapahit. Sukuh sekaligus menjadi bukti sejarah peralihan peradaban di Jawa, dari Hindu ke Islam. Candi pada umumnya, dibangun di atas tanah lapang oleh kaum kerajaan, tak jauh dari jantung pemerintahan sebagai pusat peribadatan. Namun Sukuh justru dibangun terpencil, di lereng gunung. Sukuh dibangun orang-orang Majapahit yang menghindari kejaran pasukan Demak. Setelah Majapahit runtuh, tak banyak lagi candi yang dibangun. Karena itu, Sukuh disebut para arkeolog sebagai candi terakhir atau The Last Temple.

Candi Sukuh –dan candi-candi lain di Jawa—relatif lebih beruntung dibanding benda serupa di Kalimantan Selatan. Candi Agung di Amuntai (HSU) dan Candi Laras di Tapin, secara umum hanya tinggal nama. Tak banyak bangunan tersisa. Parahnya, hingga kini tak ada langkah yang jelas untuk melakukan riset bagi rekonstruksi dua candi itu. Bisa jadi alasan politis dan keagamaan menjadi salah satu penyebabnya.

Terlepas dari dua hal itu, dua candi di Kalsel itu punya rentang dan punya sejarah tersendiri. Candi Agung misalnya. Ia merupakan salah satu candi Hindu. Candi Agung di Amuntai dibangun pada abad ke 14 oleh seorang saudagar dari Majapahit, Ampu Jatmika, yang kemudian menjadi tokoh utama Nagara Dhipa yang didirikannya. Lambung Mangkurat yang merupakan putra Ampu Jatmaka juga menjadi sosok yang dominan di kerajaan yang berdiri jauh sebelum munculnya Kerajaan Banjar yang Islam.

Sedangkan Candi Lara di Desa Margasari, Tapin juga punya sejarah dan keunikan sendiri. Candi ini diperkirakan berdiri sekitar abad ke 13, sehingga lebih tua dari Candi Agung di Amuntai. Secara utuh, situs Candi Laras yang merupakan candi Buddha hanya berupa sumur tua. Tak jauh dari lokasi sumur tersebut, tertanam beberapa batang kayu ulin besar berusia ratusan tahun.
***
Tak seperti tempat peribadatan lain yang memampang lambang-lambang suci keagamaan, di Sukuh, justru banyak menampilkan simbol sensualitas. Simbol itu nampak jelas pada sebuah relif berbentuk dua jenis alat kelamin berbeda yang disebut Lingga-Yoni (Penis-Vagina). Relief itu terpahat di lantai, tak jauh dari gapura paduraksa di trap (tingkat) pertama.

Pada sisi kiri dan kanan gapura terpahat relief yang juga jarang ada di candi-candi lain. Gapura buto aban wong di sisi kanan dan Gapuro Buto Anahut Buntut di sisi kirinya. Banyak arkeolog menyebut, kedua relief pada gapura itu hanya sebagai sengkalan atau tanda waktu pembuatan: gapuro berkarakter 9, Buti 5, Aban/anahut 3 dan Wong/Buntut angka 1. Jadi jika dibaca terbalik, tulisan itu membentuk angka 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

Di trap kedua, pemandangan tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Namun gapura di trap pertama kondisinya jauh lebih baik dibanding di trap kedua. Sebuah arca tanpa ukiran dan hiasan pada tubuhnya menjadi among tamu yang setia menyambut pengunjung dengan sebuah gada yang tergenggam di tangan. Arca itu tanpa ukiran dan mulai aus.

Di trap ketiga yang menjadi puncak dan pusat candi, hawa sensualitas kian terasa. Dari kejauhan, nampak bangunan candi utama menyerupai trapesium dengan lorong kecil di tengahnya yang menjadi jalan masuk. Jika diamati secara saksama, bangunan candi utama itu menyerupai alat kelamin perempuan.

Untuk mencapai bagian dalam candi yang menjadi tempat persembahyangan, orang wajib melalui tanah berundak. Makin ke dalam undakan kian tinggi. Banyak orang percaya, Candi Sukuh dapat mengetes keperawanan gadis yang akan melangsungkan pernikahan. Jika sang gadis masih perawan, saat melangkahi undakan selaput keperawanannya akan pecah, darah keluar dari kemaluan. Begitu pula sebaliknya.

Tak hanya kepercayaan soal keperawanan yang melingkupi Candi Sukuh. Candi ini juga dipercaya dapat menyibak tabir perselingkuhan istri. Caranya sang istri yang mengenakan kebaya atau rok melangkahi undakan. Jika kebaya atau roknya sobek, istri itu diyakini telah berselingkuh.

Di sekeliling candi utama banyak arca yang juga tak biasa didapati di tempat lain. Misalnya arca manusia bersayap, berkepala burung garuda, kura-kura, dan komodo. Tapi ada satu arca yang unik dan sangat berbeda. Bentuknya laki-laki tanpa kepala, berperawakan besar, dengan tangan kanan memegang erat kelaminnya yang sedang ereksi. Mungkin arca ini tengah menggambarkan aktivitas pribadi (onani).

Apa pun pesan yang disampaikan relief-relief di Candi Sukuh, semuanya bisa dilihat dalam dua sisi. Sensualitas atau justru menunjukkan keterbukaan dan sikap menyampaikan pesan secara langsung. Tanpa diembeli sikap primordial, bermuka banyak, dipenuhi kepura-puraan, dan berpusing-pusing sebelum menyampaikan pendapat sebenarnya.