Jumat, 15 April 2016

Kuda Sungkai yang Telah Tergantikan

Kuda putih yang masih terikat tali kekang tak jauh dari pasar Batu Tanam, Kecamatan Sambung Makmur, Kabupaten Banjar tiba-tiba meringkik. Dari arah pasar, seorang pria bertubuh kecil dengan topi di kepala datang menghampiri.
Saadilah (64), si empunya lantas meletakkan dua karung ukuran kecil yang tampak tak terisi penuh dengan barang-barang keperluan pokok beberapa meter dari tempat kunda tertambat dengan tali kekang. Satu karung berisi sekitar 10 kilogram beras, karung satunya berisi bahan makanan lain seperti minyak goreng, gula, dan kelapa.
Tali kekang kuda lantas ia lepas dan membawanya mendekat ke kedua karung yang semula diletakkan. Dua karung berisi beras dan bahan makan lain segera diletakkanya di atas punggung kuda berlapis pelana kayu. Beres meletakkan karung, Saadilah juga naik ke atas punggung kuda. Dengan langkah perlahan, di bawah komadonya, kuda menuyusuri jalanan yang belum beraspal menuju rumahnya di Desa Batung, Kecamatan, Sambung Makmur..
Sembari kuda berjalan pelan Saadilah mengatakan, sudah memanfaat tenaga kuda betina miliknya untuk mengangkut beberapa tundun pisang hasil kebunnya ke pasar-pasar tradisional menjelang hari pasaran tiba sejak puluhan tahun silam.
Salah satunya pasar yang rutin ia sambangi adalah Pasar Batu Tanam yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempat tinggalnya. “Senin dan Kamis di Pasar Batu Tanam, Selasa ke Pasar Baliangin. Kalau pisang sedang banyak kadang sampai ke Pasar Sungkai yang ramai pada Minggu dan Rabu,” kata Saadilah akhir pekan lalu.
Dikisahkannya, jauh sebelum Pasar Batu Tanam atau Pasar Baliangin ada, aktifitas perniagaan warga Kecamatan Sambung Makmur terpusat di Pasar Sungkai. Pisang adalah produk pertanian yang mendominasi kala itu. Warga  mengangkut hingga belasan tundun pisang di atas punggung kuda. Mendaki, menuruni, dan menuyuri jalan membawa pisang sampai ke Pasar Sungkai.
Banyaknya pisang yang dibawa, kata Saadilah, membuat kuda tak dapat ditunggangi. pemilik kuda pun berjalan berpuluh-puluh kilometer mengiringi derap kaki kuda sambil tetap memegang tali kendali. “Dari Desa Bangkal tempat saya tinggal ke pasar Sungkai berjarak sekitar 15 kilometer. Jadi harus berangkat subuh untuk sampai di pasar mejelang pagi hari,” kata Saadilah.
Saking banyaknya warga yang menggunakan kuda sebagai sarana angkutan ke Pasar Sungkai kala itu, membuat suasana pasar tak hanya riuh oleh suara orang-orang yang melakukan tawar menawar, tapi juga oleh ringkikan kuda. Jumlahnya mencapai ratusan, sehingga diperlukan area khusus memarkir kuda-kuda. “Ongkos parkirnya Rp250 per kuda. Itu sekitar tahun 1960-an,” kata Saadilah.
Tak hanya di Pasar Sungkai, kata Saadilah, pisang yang masih sangat melimpah kala itu banyak juga yangdijual hingga ke Pasar Binuang, Tapin. Peredaran rupiah masih sangat terbatas dan begitu berharga kala itu. Sehingga perdagangan masih banyak dilakukan dengan cara barter. “Pisang ditukar dengan barang kebutuhan pokok lainnya. Sering juga pisang dibawa pulang karena tidak terjual,” katanya.
Kuda, kata Saadilah, berperan penting sebagai sarana angkutan barang kala itu. Jumlahnya yang mencapai ribuan ekor dan selalu memenuhi Pasar Sungkai menjelang hari pasaran, Minggu dan Rabu membuat Desa Sungkai, Kecamatan Sambung Makmur kemudian terkenal dengan kuda Sungkainya.
Tak diketahui secara pasti sejak kapan kuda-kuda itu ada. Tapi kuda-kuda itu bukanklah satwa endemik wilayah setempat. Menurut Saadilah, kuda-kuda yang banyak tersebar hampir di seluruh desa di Kecamatan Sambung Makmur sebagian juga tersebar di Kecamatan Binuang, Tapin itu didatangkan dari Madura. Sebagian ada juga yang didatangkan dari Bali dan Sumbawa. “Saya juga tidak tahu sejak kapan kuda-kuda itu ada di sini . Yang pasti waktu saya masih kecil kuda-kuda itu sudah ada,” kata Saadilah dengan logat khas Madura. (rudiyanto)
Tersisa Hanya Beberapa Kuda
Hingga akhir tahun 1990-an, kuda masih banyak digunakan untuk mengangkut pisang dan hasil pertanian lainnya. Pisang masih menjadi primadona hasil pertanian di daerah yang didominasi pegunungan dan dataran tinggi itu.
Namun sejak industri otomotif tumbuh dengan produk mobil dan sepeda motornya, kuda semakin ditinggalkan. Banyak petani atau pedagang beralih menggunakan sepeda motor untuk mengangkut pisang dan hasil pertanian lainnya dari kebun ke pasar.
Kondisi tersebut berlanjut ketika pengusaha tambang mulai merambah kebun-kebun warga pisang warga dan menggeruk batubara yang banyak terdapat di dalamnya. Selain menjual lahannya pada pengusaha tambang, warga juga banyak yang mengganti kebun pisangnya dengan karet karena dinilai lebih menguntungkan daripada mempertahankan pohon pohon pisang mereka.
Tak hanya itu, lanjutnya, serangan hama pisang yang pernah menyerang massal berdampak pada turunnya kwantitas hasil panen para petani. Alhasil, satu persatu warga menjual kuda-kuda mereka. Kuda Sungkai yang dulu jumlahnya mencapai ribuan berkurang dan mendekati kepunahan. Hanya sedikit warga yang masih bertahan menggunakan kuda sebagai sarana angkutan.
Salah satu warga yang masih memepertahankan dan menggunakan kuda adalah Saadilah. “Kuda yang masih ada sekarang jumlahnya mungkin tak lebih dari 50 ekor. Di Desa Batung tempat saya tinggal kini hanya dua warga yang masih memelihara kuda padahal dulu hampir semua warga punya,” katanya.
Tak dapat mengendarai sepeda motor, menjadi alasan utama Saadillah tetap menggunakan tenaga kuda. Selain itu menurutnya, memelihara, merawat, dan menggunakan kuda lebih mudah dibanding sepeda motor. Cukup dengan memberinya rumput dan memberinya jamu dan telur ayam kampung sebulan sekali untuk menjaga kesehatan dan stamina kuda.
Kuda, atau curun dalam bahas Madura, kata Saadilah, dapat digunakan di segala medan. Terlebih lagi wilayah yang didominasi pegunagan dan dataran tinggi seperti Kecamatan Sambung Makmur. “Sering juga pemilik kebun menyewa kuda untuk membawa hasil panen dari kebun dibawa ke pinggir jalan karena tak ada akses jalan masuk kesana. Hanya kuda solusinya,” kata Saadilah. (rudiyanto)
Meriah di Peringatan Maulid Nabi.
Selain masih difungsikan sebagai sarana angkutan, di Desa Baliangin, Kecamatan Sambung Makmur, kuda-kuda yang masih ada juga digunakan untuk memeriahkan tradisi Mauludan yang digelar setiap tanggal 12 Maulud. Pada bulan Maulud setiap tahunnya, Pondok Pesantren Al Ihsani yang ada di desa tersebut rutin meluluskan beberapa santrinya.    
Santri pria yang lulus, kata Muaddin, salah seorang warga Desa Baliangin, menyewa kuda-kuda itu. Kuda kemudian dihias dengan berbagai aksesoris dari kain dan kertas berwarna mencolok. Kuda yang sudah dihias digunakan dalam konvoi mengelilingi pondok pesantren. “Harga sewanya antara Rp1-1,5 juta,” katanya.
Tradisi Mauludan sekaligus merayakan kelulusan santri itu, kata Muaddin, sudah berlangsung rutin selama 17 tahun.  “Di desa kami juga masih sering menyelenggarakan lomba pacuan kuda. Biasanya dalam rangka memeringati hari kemerdekaan,” kata Muaddin. (rudiyanto)


Menyelami Sumber Kehidupan di Dasar Sungai

Dumping meraung-raung di atas lanting beratap beberapa lembar seng yang sudah berkarat. Suara mesin diesel berbahan bakar solar itu begitu memekak telinga, mengusir senyap dan hening yang semula membekap kawasan Sungai Batu Hitam, salah satu sungai yang bermuara ke Sungai Riam Kanan, di Desa Mandi Kapau, Karang Intan.

Gaduh suara mesin diesel bertambah tatkala satu mesin kompresor berukuran kecil juga dinyalakan. Lanting tempat mesin-mesin dumping ditambatkan makin bergetar. Getarannya bahkan membuat air di sekitarnya bergolak, menciptakan riak air di atas permukaan sungai.

Di atas lanting, di antara dumping yang semakin panas, dua pria tampak sibuk. Sesekali matanya melihat ke arah dua selang panjang mengambang di atas permukaan air. Salah satu selang terhubung ke kompresor. Sedang ujungnya terjulur ke kedalaman sungai yang diperkirakan mencapai 30 meter itu.

Dari arah selang yang terjulur ke kedalaman sungai dan tak terlihat ujungnya itu, buih dan gelembung air muncul ke permukaan, pertanda ada tekanan udara yang keluar dari dasar sungai. Tak lama berselang, Supiansyah (35) yang mengenakan kacamata selam, dengan mulut yang masih menggigit ujung selang sebagai alat bantu bernapas saat berada dalam air, muncul ke permukaan.

Ian, begitu pria satu anak ini biasa disapa, adalah satu dari sekian banyak warga Desa Mandi Kapau, Karang Intan yang berprofesi sebagai penyelam tradisional untuk menyedot pasir dan koral dari dasar sungai.

“Bergantian. Setelah saya, seorang yang lain akan menyusul menyelam menggantikan saya di dasar sungai untuk memegangi ujung selang selama proses penyedotan pasir dan koral berlangsung,” kata Ian kepada pekan lalu.

Ian dan para penyelam tradisional ini, hanya mengandalkan tekanan udara dari sebuah mesin kompresor untuk menyelam hingga kedalaman 30 meter. Tak ada perlengkapan standar penyelaman yang mereka pakai. Kendari  saat menyelam dan berada di dasar sungai, bahaya selalu mengancam.

Menyedot pasir dan koral dari dasar Sungai Batu Hitam, dengan mengadalkan tekanan udara dari kompresor sudah dilakoni Ian sekitar 10 tahun. Dan selama itu pula, ia mengaku bak selalu diintai malaikat pencabut nyawa.

Saat berada di dasar sungai, Ian acapkali merasa nyawanya tinggal setengah, dan baru akan kembali utuh saat muncul di permukaan. “Tapi ya inilah pekerjaan yang harus kami jalani. Dan sebagian besar masyarakat di sini berprofesi sebagai penyelam untuk mengangkat pasir dan koral dari dasar sungai,” katanya.

***

Diceritakan Ian, penyelaman dimulai sekitar pukul 11.00 Wita. Namun sejak sekitar pukul 09.00 Wita, Ian dan empat pekerja lainnya sudah berada di atas lanting, menyiapkan segala sesuatunya sebelum penyelaman dilakukan.

Umumnya, satu kelompok terdiri dari empat sampai lima orang. Dua di antaranya bertugas di bawah air sebagai penyelam. Sisanya mengurusi koral dan pasir yang sudah terangkat oleh selang penyedot.

Sebelum penyelaman dimulai, kata Ian, pengecekan kompresor dan selang penting dilakukan. Tujuannya, menghindari risiko kebocoran selang yang menyebabkan tekanan udara terhambat dan membahayakan keselamatan penyelam saat berada di dasar sungai.

Setelah semuanya dalam kondisi baik, udara keluar dari ujung selang, penjelajahan dasar sungai pun dilakukan. Penyelam, termasuk Ian mulai menengelamkan tubuhnya hingga ke dasar sungai terdalam.

Sebelum mesin dumping penyedot pasir dinyalakan, penyelam terlebih dulu harus mencari titik penyedotan di dasar sungai yang masih banyak terdapat pasir dan koralnya.

Menurutnya, bagian dasar sungai yang masih banyak pasir dank oral, yang belum menyentuh ampar (bagian dasar sungai yang sudah keras) dan tak lagi bisa disedot dengan mesin dumping. “Bagian dasar sungai sama persis dengan lokasi pendulangan intan yang berlubang raksasa karena penyedotan,” kata Ian.

Setelah titik penyedotan ditemukan, lanjutnya, penyelam harus naik kepermukaan untuk memberitahu rekan yang berada di atas lanting agar segera menyalakan mesin dumping. Tak lama kemudian, penyelam kembali ke dasar sungai untuk menlanjutkan tugas yang baru saja akan dimulai.

Menurut Ian, proses peyedotan berlangsung hingga lebih dari enam jam. Dan selama itu pula, penyelam harus tetap memegani ujung selang, atau biasa disebut selang jet. Dan selama itu pula, ia harus menahan dinginnya air dan derasnya arus sungai di kedalaman lebih dari 30 meter itu. “Penyedotan paling cepat berlangsung tiga jam,” katanya.

Selain dingin dan derasnya arus dasar sungai, rasa lapar adalah yang juga harus ditaklukkan. Karena terkadar lapar dapat menghambat proses penyedotan. Dan di dasar sungai, tak mungkin membawa bekal wujud makanan. Skadar untuk mengganjal lapar, penyelam seperti Ian, biasanya membawa minuman jeli dalam kemasan. Jeli yang bertekstur kenyal, memungkinkan dimakan meski terkadang air sungai ikut tersedot masuk ke kerongkongan. “Biasanya saya sangu jelly drink,” kata bapak satu anak ini.

Selama proses penyedotan berlangsung, beberapa orang mengurus pasir dan koral yang sudah mulai terangkat ke permukaan. Mereka mengumpulkannya di tepian sungai hingga diangkut ke truk-truk pembeli. Dalam seahrai, satu kelompok penyedot rata-rata mampu mengangkat sebanyak 8 – 10 kubik pasir.

Penghasilan yang Tak Sebanding Risiko

Pasir dan koral yang berhasil terangkat tinggal menunggu pembeli. Dari penjulan pasir dan koral hasil penyedotan, pemilik mesin lebih dulu mendapat jatah 20 persennya. Sisanya, dibagi rata sesuai jumlah orang dalam satu kelompok.

Besaran penghasilan yang diterima, menurut Ian tak sama, tergantung kubikasi pasir dan koral yang berhasil disedot. “Jika dirata-rata, dalam seminggu saya menerima sebesar Rp300 ribu. Hanya jika beruntung, intan dan emas terkadang ikut terangkat,” ujarnya.

Penghasilan yang tak cukup sebanding dengan risiko besar yang harus dihadapi. Pasalnya, saban hari para penyelam ini harus berhadapan dengan bahaya yang setiap saat siap merenggut nyawa. Tebing-tebing setinggi hingga lima meter didasar sungai yang terbentuk karena proses penyedotan itu, setiap saat bisa saja roboh dan menimpa.

Seperti pernah dialami Ian beberapa tahun silam. Diceritakannya, kala itu penyelamaan baru berjalan sekitar satu jam, dan tiba-tiba saja tebing di dasar sungai runtuh dan mengubur tubuhnya. Beruntung rekan kerja yang menjaga di atas lanting segera mengetahui nya dan bergegas menyelam menyelamatkannya.

Ia saat itu sempat tak bernapas karena sudah terlalu banyak air yang masuk ke pertnya. Tapi untungnya, nyawa Ian masih bisa diselamatkan.
“Saat itu saya melihat air yang keluar dari selang jet penyedot berubah jernih. Dan saya tahu bahwa di dasar sungai ada masalah yang terjadi,” kata Syaiful, sesama penyelam yang masih satu kelompok dengan Ian.
Melihat air berubah jernih, Syaiful bergegas menyelam ke dasar sungai. Dan benar, di dasar sungai ia melihat tubuh Ian tertimpa longsoran tanah. “beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan meski sebelumnya sempat pingsan,” katanya. (rudiyanto)

Tuli atau Mati

Tingginya risiko yang dihadapi penyelam, menuntut kerjasama dan senantiasa waspada antar sesama pekerja. Karena jika tidak, nyawa menjadi taruhannya. Peristiwa yang pernah dialami Ian salah satu contohnya. Berkat kesigapan Syaiful, nyawanya terselamatkan.

Menurut Syaiful, tidak sulit mengetahui jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa penyelam di dasar air. Saat air yang keluar dari selang penyedot berubah putih, merupakan tanda kuat selang jet tak lagi tertancap ke dalam tanah di dasar sungai. Itu berarti, selang telah terlepas dari pegangan si penyelam.

“Jika itu terjadi maka yang diatas lanting harus segera menyelam. Karena bisa dipastikan terjadi kecelakaan kerja di dasar sana,” kata Syaiful.

Selain bahaya yang setiap saat megancam nyawa, penyelaman dengan hanya mengandalkan selang kompresor sebagai suplai udara, tanpa perlengkapan standar menyelam, para penyelam riskan mengalami gangguan pendengaran.

Menurutnya, ini terjadi karena kedalaman penyelaman yang mencapai puluhan meter. “Risiko paling ringan bagi penyelam tradisional seperti kami adalah gangguan pendengaran. Tuli menjadi risiko yang paling umum dialami penyelam,” katanya. (rudiyanto)

Teks Foto 1:
Dua lanting di tengah Sungai Batu Hitam, Mandi Kapau, Kecamatan Karang Intan, tempat  mesin dumping penyedot pasir dank oral ditambatkan.



Salai Pisang Digilas Tambang

Tak kurang dari lima belas ribu biji pisang jenis awak yang sudah matang ia kupas bersama Biah, isterinya dan dua anak perempuannya. Belum sampai separo dari semua pisang yang harus dikupas, H Maslan beranjak meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih juga memisahkan pisang dari kulitnya.
Laki-laki lebih paro baya ini melangkah menuju sebuah gudang berukuran sekitar 2 X 6 meter di bagian belakang rumah di Jalan Raya Barat, Rt 1, Binuang. Beberapa kayu bakar berkuran besar tanpa dibelah, ia masukkan ke dalam gudang.
Tak lama kemudian, asap mengepul dari dalam gudang seiring api yang dinyalakan Maslan. Di antara api yang kian  membesar, ia terus menambah bilah-bilah kayu bakar. Setelah hawa panas api benar-benar terasa hingga di sudut-sudut gudang, Maslan kembali menuju teras rumah di mana istri dan kedua  anaknya masih saja tekun dan sabar mengupas pisang-pisang.
Ribuan biji pisang yang sudah dikupas, ia bawa ke gudang. Pisang-pisang kemudian dipindahkan atau diampar di atas rampatai -bambu yang dianyam renggang berfungsi sebagai alas meletakkan pisang saat proses pemanggangan atau manyalai berlangsung- tepat di atas nyala api yang mulai mengubah kayu menjadi bara.
Usai maampar, Maslan kembali ke teras rumah untuk mengupas pisang bersama istri dan dua anaknya lagi. Setelah pisang yang dikumpas terkumpul cukup banyak, Maslan kembali membawanya dan maamparnya di atas rampatai di dalam gudang. Begitu seterusnya sampai semua pisang terkupas dan rampatai dalam gudang penuh dengan pisang. 
Setelah semua pisang tertampung di atas rampatai, dinding-dinding gudang yang dibuat serupa jendela ditutup rapat agar hawa panas api tak keluar. Baru setelah sekitar enam jam kemudian. Maslan akan kembali ke gudang.
Di dalam gudang, pisang-pisang yang mulai berubah warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan cairan manisnya akibat pengasapan dibalik. Tujuannya agar pisang matang merata. Untuk membalik sebanyak 15 ribu pisang, Maslan hanya memerlukan waktu tak lebih dari 15 menit.
Selesai membalik, gudang kembali ditutup rapat dan baru akan dibuka lagi sekitar enam jam kemudian. Menurut H Maslan, yang tak boleh diabaikan saat proses manyalai berlangsung, adalah api yang tak boleh padam dan mengeluarkan asap jumlah banyak. Karena jika terlalu banyak asap, pisang sale atau dalam bahasa setempat rimpi, ada juga yang menyebutnya pisang salai dalam dialek lokal, yang dihasilkan tak akan nikmat dan cenderung berbau asap.
Baru setelah sekitar 48 jam atau dua hari dua malam, api dapat dipadamkan karena rimpi telah matang dan siap dipasarkan. Untuk memasarkan rimpi olahannya, Maslan mengaku tak menemui kesulitan karena telah memiliki langganan. Langganan Maslan umumnya para pedagang di sekitar Pasar Binuang yang akan menjual lagi rimpi olahannya  Ada juga pedagang dari luar kota, seperti Banjarmasin dan Samarinda yang datang langsung ke rumah Maslan.
Para pedagang biasanya membeli rimpi olahan Maslan per seribu biji dengan harga Rp50.000,-. Sebagian rimpi ada juga yang ia jual sudah dengan kemasan. Satu kemasan berisi 10 – 12 biji rimpi.
“Tak kurang dari 30 tahun saya manyalai. Dari harga pisang Rp25 per seratus biji sampai sekarang harga pisang Rp17.000 per seratusnya. Di Binuang saya termasuk generasi pertama pembuat rimpi. Beberapa warga lain kemudian mengikuti jejak saya, sebagian besar juga belajar langsung dari saya,” kata H Maslan, akhir pekan lalu.
Melimpahnya pisang awak sebagai bahan baku utama rimpi di tanah Binuang membuat para pembuat rimpi seperti Maslan menapaki masa kejayaan. Betapa tidak, dalam sekali manyalai, minimal 15 ribu pisang awak ia olah saban 2-3 hari sekali. Nyaris tak ada celah di atas haratai di dalam gudangnya.
Pisang awak yang masih  begitu mudah didapat dari para petani Binuang yang bermukim di sekitar Pegunungan Meratus membuat harga pisang murah. Harga bahan baku yang murah membuat Maslan tak sedikit meraup untung. Dari harga pisang Rp2500 per seratusnya atau Rp25.000 per seribu biji pisang, ia jual Rp50.000 per seribu biji atau keuntungan 50 persen dari modal yang dikeluarkan.
Ditambah lagi, kata Maslan yang telah berhaji juga dari penghasilannya manyalai, dulu kayu bakar, yang juga menjadi komponen utama manyalai, masih mudah didapat di sekitar hutan di Binuang tanpa harus membeli. “Kalau sekarang modal bertambah untuk membeli kayu bakar sebesar Rp150.000 per satu pick up. Satu pick up kayu karet bisa digunakan sampai 4 kali manyalai,” kata H Maslan.
***
Tahun bertambah, Kecamatan Binuang tumbuh dan berkembang. Sektor pertanian yang semula menjadi tumpuan utama sebagian besar warganya mulai berubah ke sektor industri dengan beroperasinya beberapa perusahaan tambang batu bara yang dimotori tokoh-tokoh lokal Binuang, ‘memanfaatkan’ bagian lain kekayaan yang dikandung bumi Binuang.
Sejak sekitar tahun 2000, berhektare-hektare lahan pertanian warga, termasuk lahan-lahan pertanian tempat pohon-pohon pisang dulu tumbuh subur dibayar mahal oleh para pengusaha untuk selanjut dibongkar dan dikeruk isinya dan hanya menyisakan lubang-lubang galian ukuran raksasa.
Meski tak ingin menyebut keberadaan perusahaan-perusaan tambang batu bara itu penyebab kian berkurangnya produksi pisang di Binuang, tapi itulah kenyataan yang harus di hadapi Maslan sejak era 2000-an. Pisang awak kian hilang, kalaupun ada harganya tentu tak akan sama seperti dulu saat pisang masih melimpah dan memenuhi hampir setiap sudut hari pasaran Pasar Binuang saban Rabu.
Kondisi itu diperparah oleh serangan hama yang masif membunuh pohon-pohon pisang milik petani sekitar tahun 2008. “Memang masih ada pisang awak di Binuang tapi tak banyak dan kualitasnya buruk, keras dan berwarna hitam di bagian tengahnya. Pisang seperti itu kami biasanya menyebutnya pisang berbatu bara,” kata Maslan.
Meski tak semua lahan pertanian berubah jadi lokasi tambang, menurut H Maslan, dampak dari aktifitas pertambangan berupa debu batu bara dari lokasi-lokasi tambang mengontaminasi pohon-pohon pisang yang menyebabkan buah pisang mengeras dan hitam di bagian dalamnya.
Karena pisang awak kian susah di dapat di Binuang, Maslan kini membeli pisang-pisang awak dari petani di daerah Barabai, HSS. “Kalau dulu paling sedikit manyalai 15 ribu biji, tapi sekarang paling banyak hanya 5 ribu biji,” ujar H Maslan. (rudiyanto)
Banyak Yang Gulung Tikar
Jika Maslan tetap bertahan manyalai di tengah kian sulitnya mendapatkan bahan baku pisang awak, berbeda lagi dengan Misrani (68). Sejak lima tahun silam, warga Desa Sarang Burung ini menyudahi usaha pembuatan rimpinya secara permanen.
Menurut Masrani, selain kian sulit dan mahalnya bahan baku, sektor pemasaran yang menjadi hilir semua produk olahan, termasuk rimpi yang kian menurun menjadi alasan lainnya berhenti manyalai.
“Karena telah diproduksi sejak puluhan tahun silam sampai sekarang, rimpi menjadi ciri khas Binuang, bahkan Tapin. Tapi kian tahun penjuMaslan rimpi dirasa kian menurun, mungkin karena di beberapa daerah lain di liuar Binuang juga ada olahan serupa, seperti di Jawa,” kata Masrani.
Puncaknya, kata Masrani, api yang digunakan memanggang pisang justru membakar gudang milik Masrani. “Sejak itu saya benar-benar berhenti manyalai, selain tak lagi ada modal untuk membeli pisang awak yang kian mahal, penjulan rimpi yang tak seramai dulu menjadi alasan lain saya,” kata Masrani.
Menurunnya penjulan rimpi Binuang itu diamini Hj Yayah, salah satu pemilik toko penyedia jajanan dan oleh-oleh yang jugamenjual rimpi. Menurut Hj Yayah, dulu, 5 ribu rimpi yang ia beli langsung pembuatnya habis terjuual dalam sepekan. “Tapi sekarang 2 ribu biji rimpi saja jarang habis dalam satu minggunya,” kata Hj Yayah.
Kendati jumlah pembuat rimpi di Binuang kian berkurang seiring kian menghilangnya bahan baku pisang, namun ia optimis rimpi tak akan hilang dari Binuang. Meski tak ada program atau berupa pembinaan khusus pada para pembuat rimpi, selama masih ada warga Binuang yang manyalai, H Maslan salah satunya, rimpi akan tetap ada di Binuang. (rudiyanto)
















 Salai Pisang di Gilas Tambang
Tak kurang dari lima belas ribu biji pisang jenis awak yang sudah matang ia kupas bersama Biah, isterinya dan dua anak perempuannya. Belum sampai separo dari semua pisang yang harus dikupas, H Maslan beranjak meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih juga memisahkan pisang dari kulitnya.
Laki-laki lebih paro baya ini melangkah menuju sebuah gudang berukuran sekitar 2 X 6 meter di bagian belakang rumah di Jalan Raya Barat, Rt 1, Binuang. Beberapa kayu bakar berkuran besar tanpa dibelah, ia masukkan ke dalam gudang.
Tak lama kemudian, asap mengepul dari dalam gudang seiring api yang dinyalakan Maslan. Di antara api yang kian  membesar, ia terus menambah bilah-bilah kayu bakar. Setelah hawa panas api benar-benar terasa hingga di sudut-sudut gudang, Maslan kembali menuju teras rumah di mana istri dan kedua  anaknya masih saja tekun dan sabar mengupas pisang-pisang.
Ribuan biji pisang yang sudah dikupas, ia bawa ke gudang. Pisang-pisang kemudian dipindahkan atau diampar di atas rampatai -bambu yang dianyam renggang berfungsi sebagai alas meletakkan pisang saat proses pemanggangan atau manyalai berlangsung- tepat di atas nyala api yang mulai mengubah kayu menjadi bara.
Usai maampar, Maslan kembali ke teras rumah untuk mengupas pisang bersama istri dan dua anaknya lagi. Setelah pisang yang dikumpas terkumpul cukup banyak, Maslan kembali membawanya dan maamparnya di atas rampatai di dalam gudang. Begitu seterusnya sampai semua pisang terkupas dan rampatai dalam gudang penuh dengan pisang. 
Setelah semua pisang tertampung di atas rampatai, dinding-dinding gudang yang dibuat serupa jendela ditutup rapat agar hawa panas api tak keluar. Baru setelah sekitar enam jam kemudian. Maslan akan kembali ke gudang.
Di dalam gudang, pisang-pisang yang mulai berubah warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan cairan manisnya akibat pengasapan dibalik. Tujuannya agar pisang matang merata. Untuk membalik sebanyak 15 ribu pisang, Maslan hanya memerlukan waktu tak lebih dari 15 menit.
Selesai membalik, gudang kembali ditutup rapat dan baru akan dibuka lagi sekitar enam jam kemudian. Menurut H Maslan, yang tak boleh diabaikan saat proses manyalai berlangsung, adalah api yang tak boleh padam dan mengeluarkan asap jumlah banyak. Karena jika terlalu banyak asap, pisang sale atau dalam bahasa setempat rimpi, ada juga yang menyebutnya pisang salai dalam dialek lokal, yang dihasilkan tak akan nikmat dan cenderung berbau asap.
Baru setelah sekitar 48 jam atau dua hari dua malam, api dapat dipadamkan karena rimpi telah matang dan siap dipasarkan. Untuk memasarkan rimpi olahannya, Maslan mengaku tak menemui kesulitan karena telah memiliki langganan. Langganan Maslan umumnya para pedagang di sekitar Pasar Binuang yang akan menjual lagi rimpi olahannya  Ada juga pedagang dari luar kota, seperti Banjarmasin dan Samarinda yang datang langsung ke rumah Maslan.
Para pedagang biasanya membeli rimpi olahan Maslan per seribu biji dengan harga Rp50.000,-. Sebagian rimpi ada juga yang ia jual sudah dengan kemasan. Satu kemasan berisi 10 – 12 biji rimpi.
“Tak kurang dari 30 tahun saya manyalai. Dari harga pisang Rp25 per seratus biji sampai sekarang harga pisang Rp17.000 per seratusnya. Di Binuang saya termasuk generasi pertama pembuat rimpi. Beberapa warga lain kemudian mengikuti jejak saya, sebagian besar juga belajar langsung dari saya,” kata H Maslan, akhir pekan lalu.
Melimpahnya pisang awak sebagai bahan baku utama rimpi di tanah Binuang membuat para pembuat rimpi seperti Maslan menapaki masa kejayaan. Betapa tidak, dalam sekali manyalai, minimal 15 ribu pisang awak ia olah saban 2-3 hari sekali. Nyaris tak ada celah di atas haratai di dalam gudangnya.
Pisang awak yang masih  begitu mudah didapat dari para petani Binuang yang bermukim di sekitar Pegunungan Meratus membuat harga pisang murah. Harga bahan baku yang murah membuat Maslan tak sedikit meraup untung. Dari harga pisang Rp2500 per seratusnya atau Rp25.000 per seribu biji pisang, ia jual Rp50.000 per seribu biji atau keuntungan 50 persen dari modal yang dikeluarkan.
Ditambah lagi, kata Maslan yang telah berhaji juga dari penghasilannya manyalai, dulu kayu bakar, yang juga menjadi komponen utama manyalai, masih mudah didapat di sekitar hutan di Binuang tanpa harus membeli. “Kalau sekarang modal bertambah untuk membeli kayu bakar sebesar Rp150.000 per satu pick up. Satu pick up kayu karet bisa digunakan sampai 4 kali manyalai,” kata H Maslan.
***
Tahun bertambah, Kecamatan Binuang tumbuh dan berkembang. Sektor pertanian yang semula menjadi tumpuan utama sebagian besar warganya mulai berubah ke sektor industri dengan beroperasinya beberapa perusahaan tambang batu bara yang dimotori tokoh-tokoh lokal Binuang, ‘memanfaatkan’ bagian lain kekayaan yang dikandung bumi Binuang.
Sejak sekitar tahun 2000, berhektare-hektare lahan pertanian warga, termasuk lahan-lahan pertanian tempat pohon-pohon pisang dulu tumbuh subur dibayar mahal oleh para pengusaha untuk selanjut dibongkar dan dikeruk isinya dan hanya menyisakan lubang-lubang galian ukuran raksasa.
Meski tak ingin menyebut keberadaan perusahaan-perusaan tambang batu bara itu penyebab kian berkurangnya produksi pisang di Binuang, tapi itulah kenyataan yang harus di hadapi Maslan sejak era 2000-an. Pisang awak kian hilang, kalaupun ada harganya tentu tak akan sama seperti dulu saat pisang masih melimpah dan memenuhi hampir setiap sudut hari pasaran Pasar Binuang saban Rabu.
Kondisi itu diperparah oleh serangan hama yang masif membunuh pohon-pohon pisang milik petani sekitar tahun 2008. “Memang masih ada pisang awak di Binuang tapi tak banyak dan kualitasnya buruk, keras dan berwarna hitam di bagian tengahnya. Pisang seperti itu kami biasanya menyebutnya pisang berbatu bara,” kata Maslan.
Meski tak semua lahan pertanian berubah jadi lokasi tambang, menurut H Maslan, dampak dari aktifitas pertambangan berupa debu batu bara dari lokasi-lokasi tambang mengontaminasi pohon-pohon pisang yang menyebabkan buah pisang mengeras dan hitam di bagian dalamnya.
Karena pisang awak kian susah di dapat di Binuang, Maslan kini membeli pisang-pisang awak dari petani di daerah Barabai, HSS. “Kalau dulu paling sedikit manyalai 15 ribu biji, tapi sekarang paling banyak hanya 5 ribu biji,” ujar H Maslan. (rudiyanto)
Banyak Yang Gulung Tikar
Jika Maslan tetap bertahan manyalai di tengah kian sulitnya mendapatkan bahan baku pisang awak, berbeda lagi dengan Misrani (68). Sejak lima tahun silam, warga Desa Sarang Burung ini menyudahi usaha pembuatan rimpinya secara permanen.
Menurut Masrani, selain kian sulit dan mahalnya bahan baku, sektor pemasaran yang menjadi hilir semua produk olahan, termasuk rimpi yang kian menurun menjadi alasan lainnya berhenti manyalai.
“Karena telah diproduksi sejak puluhan tahun silam sampai sekarang, rimpi menjadi ciri khas Binuang, bahkan Tapin. Tapi kian tahun penjuMaslan rimpi dirasa kian menurun, mungkin karena di beberapa daerah lain di liuar Binuang juga ada olahan serupa, seperti di Jawa,” kata Masrani.
Puncaknya, kata Masrani, api yang digunakan memanggang pisang justru membakar gudang milik Masrani. “Sejak itu saya benar-benar berhenti manyalai, selain tak lagi ada modal untuk membeli pisang awak yang kian mahal, penjulan rimpi yang tak seramai dulu menjadi alasan lain saya,” kata Masrani.
Menurunnya penjulan rimpi Binuang itu diamini Hj Yayah, salah satu pemilik toko penyedia jajanan dan oleh-oleh yang jugamenjual rimpi. Menurut Hj Yayah, dulu, 5 ribu rimpi yang ia beli langsung pembuatnya habis terjuual dalam sepekan. “Tapi sekarang 2 ribu biji rimpi saja jarang habis dalam satu minggunya,” kata Hj Yayah.
Kendati jumlah pembuat rimpi di Binuang kian berkurang seiring kian menghilangnya bahan baku pisang, namun ia optimis rimpi tak akan hilang dari Binuang. Meski tak ada program atau berupa pembinaan khusus pada para pembuat rimpi, selama masih ada warga Binuang yang manyalai, H Maslan salah satunya, rimpi akan tetap ada di Binuang. (rudiyanto)
















Sekumpul Jadi Merek Dagang

Sekumpul Jadi Merek Dagang

Yang lain ngebor sumur hingga 180 meter, Sekumpul hanya 20 meter

Sejak dimulainya, tahun 1990-an, Majelis Ta’lim Ar Raudah Sekumpul, Martapura dan figur Kharismatik, Al A’llamah KH.M Zaini Abdul Ghani atau akrab di sapa Guru Sekumpul – ada juga yang menyapanya Guru Ijai dan Abah Guru-, menjadi magnet kuat bagi ribuan jemaah yang datang menghadiri pengajian.
Popularitas Sekumpul pun terdongkrak oleh kemasyuran dan kharisma Guru Sekumpul. Bahkan popularitas Sekumpul dan kharisma Guru Sekumpul tak pernah luntur meski Sang Guru tak lagi berada di tengah jemaah dan murid-muridnya sejak Guru Sekumpul berpulang pada 2005. Terbukti pada setiap acara haul Guru Sekumpul yang diadakan setiap tahunnya selalu dihadiri ribuan jemaah.
Saking populernya, Sekumpul potensial menjadi merek dagang. Salah satu produk pengguna label ‘Sekumpul’ yang hingga kini ada adalah air minum dalam kemasan produksi PT MandraPurna Aditama Banjar.
“Tahun 1996, Ispan Fajar Satrio menjalin kerjasama dengan Almarhum Guru Sekumpul mendirikan perusahaan air minum dalam kemasan. Semua perijinan kala itu atas nama Abah Guru. yang menamainya juga Abah Guru langsung,” kata H Alfani, Direktur PT Mandrapurna Aditama Banjar, sehari jelang pelaksanaan Haul ke-11 Guru Sekumpul, Ahad lalu.
Enam tahun beroperasi, roda perusahaan berputar lamban. Karena itulah, kata H Alfian, pada 2002, managemen perusahaan dialihkan dari yang semula masih atas nama Guru Sekumpul ke H Ismail.
“Semuanya atas ijin Guru Sekumpul. Dalam managemen perusahaan H Ismail Mursade, ayah saya menjabat sebagai komisaris. Saya sendiri sebagai direkturnya,” kata H Alfani.
Sejak peralihan managemen itulah, kata H Alfian, air minum Sekumpul yang semula hanya memproduksi kemasan galon dan botol, juga memproduksi dalam kemasan gelas dan tak lagi memproduksi kemasan galon. “Dan Alhamdulillah bertahan dan mampu bersaing dengan competitor sampai sekarang,” ujar dengan logat Maduranya.
Kendati menggunakan nama besar Sekumpul, namun menurutnya, bukan berarti perusahaan dapat meraup untung sebesar-besarnya. Terlebih lagi saat ini, perusahaan serupa banyak bermunculan. Pun, di tengah persaingan perusahaan-perusahaan berskala nasional.
Seperti yang diwanti Guru Sekumpul saat masih ada, kata H Alfian, agar perusahaan tak mengejar untung semata. Keberadaan perusahaan harus juga menjadi  medium ibadah dan beramal untuk sesama.
Karena itulah, lanjut H Alfian, Air Minun Sekumpul tak pernah absen menyetok secara cuma-cuma saban kali ada peringatan haul ulama di Kabupaten Banjar. “Pada Haul ke-11 Guru Sekumpul, kami siapkan 12.000 dus,” katanya.
Tak pada peringatan haul, target beramal dengan menyiapkan berkardus-kardus air minum dalam kemasan gelas juga dilakukan perusahaan di bulan Ramadhan. Menurut H Alfian, untuk buka bersama di Mushalla Ar Raudah saja, rata-rata 50 kardus air minum yang disiapkan.
“Salah satu wasiat Almarhum Abah Guru semasa hidup adalah jangan bahil atau pelit untuk sesama,” kata H Alfian mengulang satu dari 11 wasiat Guru Sekumpul.
Begitu pula dengan strategi pemasaran, H Alfian mengaku tak memiliki cara khusus menggaet pelanggan. Yang pasti dijalankan managemen perusahaan adalah menjadi penyedia air minum gratis di banyak kegiatan keagamaan.
“Pesan Abah Guru, juga tak perlu mengejar laba sebesar-besarnya. Termasuk menjadi sponsor berbagai kegiatan. Cukup jadi sponsor utama di perigatan-peringatan haul ulama. Trik khususnya ya paling berkat doa haulan dapat berjalan denga baik. Itu saja,” kata H Alfian.
Tanpa trik khusus, namun tetap eksis hingga sekarang, menurutnya, salah satu berkah atas kharomah yang ditinggalkan Abah Guru Sekumpul. Karomah lain Guru Sekumpul di internal perusahaan adalah sumber mata air yang hanya sedalam 20 meter.
“Sama-sama berlokasi di Jalan PM Noor, Karang Intan, perusahaan lain mengebor hingga kedalaman 180 meter. Punya kami hanya 200 meter. Dan titik pengeboran itu Almarhum Abah Guru langsung nunjuk,” kata H Alfian.

Sama seperti pelaku bisnis air minum dalam kemasan, diakuinya, penjualan Air Minum Sekumpul fluktuatif bergantung musim. Tinggi di musim kemarau turun di musim penghujan. Peningkatan penjualan air juga lazim terjadi di bulan-bulan baik menggelar perkawinan.