Jumat, 15 April 2016

Salai Pisang Digilas Tambang

Tak kurang dari lima belas ribu biji pisang jenis awak yang sudah matang ia kupas bersama Biah, isterinya dan dua anak perempuannya. Belum sampai separo dari semua pisang yang harus dikupas, H Maslan beranjak meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih juga memisahkan pisang dari kulitnya.
Laki-laki lebih paro baya ini melangkah menuju sebuah gudang berukuran sekitar 2 X 6 meter di bagian belakang rumah di Jalan Raya Barat, Rt 1, Binuang. Beberapa kayu bakar berkuran besar tanpa dibelah, ia masukkan ke dalam gudang.
Tak lama kemudian, asap mengepul dari dalam gudang seiring api yang dinyalakan Maslan. Di antara api yang kian  membesar, ia terus menambah bilah-bilah kayu bakar. Setelah hawa panas api benar-benar terasa hingga di sudut-sudut gudang, Maslan kembali menuju teras rumah di mana istri dan kedua  anaknya masih saja tekun dan sabar mengupas pisang-pisang.
Ribuan biji pisang yang sudah dikupas, ia bawa ke gudang. Pisang-pisang kemudian dipindahkan atau diampar di atas rampatai -bambu yang dianyam renggang berfungsi sebagai alas meletakkan pisang saat proses pemanggangan atau manyalai berlangsung- tepat di atas nyala api yang mulai mengubah kayu menjadi bara.
Usai maampar, Maslan kembali ke teras rumah untuk mengupas pisang bersama istri dan dua anaknya lagi. Setelah pisang yang dikumpas terkumpul cukup banyak, Maslan kembali membawanya dan maamparnya di atas rampatai di dalam gudang. Begitu seterusnya sampai semua pisang terkupas dan rampatai dalam gudang penuh dengan pisang. 
Setelah semua pisang tertampung di atas rampatai, dinding-dinding gudang yang dibuat serupa jendela ditutup rapat agar hawa panas api tak keluar. Baru setelah sekitar enam jam kemudian. Maslan akan kembali ke gudang.
Di dalam gudang, pisang-pisang yang mulai berubah warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan cairan manisnya akibat pengasapan dibalik. Tujuannya agar pisang matang merata. Untuk membalik sebanyak 15 ribu pisang, Maslan hanya memerlukan waktu tak lebih dari 15 menit.
Selesai membalik, gudang kembali ditutup rapat dan baru akan dibuka lagi sekitar enam jam kemudian. Menurut H Maslan, yang tak boleh diabaikan saat proses manyalai berlangsung, adalah api yang tak boleh padam dan mengeluarkan asap jumlah banyak. Karena jika terlalu banyak asap, pisang sale atau dalam bahasa setempat rimpi, ada juga yang menyebutnya pisang salai dalam dialek lokal, yang dihasilkan tak akan nikmat dan cenderung berbau asap.
Baru setelah sekitar 48 jam atau dua hari dua malam, api dapat dipadamkan karena rimpi telah matang dan siap dipasarkan. Untuk memasarkan rimpi olahannya, Maslan mengaku tak menemui kesulitan karena telah memiliki langganan. Langganan Maslan umumnya para pedagang di sekitar Pasar Binuang yang akan menjual lagi rimpi olahannya  Ada juga pedagang dari luar kota, seperti Banjarmasin dan Samarinda yang datang langsung ke rumah Maslan.
Para pedagang biasanya membeli rimpi olahan Maslan per seribu biji dengan harga Rp50.000,-. Sebagian rimpi ada juga yang ia jual sudah dengan kemasan. Satu kemasan berisi 10 – 12 biji rimpi.
“Tak kurang dari 30 tahun saya manyalai. Dari harga pisang Rp25 per seratus biji sampai sekarang harga pisang Rp17.000 per seratusnya. Di Binuang saya termasuk generasi pertama pembuat rimpi. Beberapa warga lain kemudian mengikuti jejak saya, sebagian besar juga belajar langsung dari saya,” kata H Maslan, akhir pekan lalu.
Melimpahnya pisang awak sebagai bahan baku utama rimpi di tanah Binuang membuat para pembuat rimpi seperti Maslan menapaki masa kejayaan. Betapa tidak, dalam sekali manyalai, minimal 15 ribu pisang awak ia olah saban 2-3 hari sekali. Nyaris tak ada celah di atas haratai di dalam gudangnya.
Pisang awak yang masih  begitu mudah didapat dari para petani Binuang yang bermukim di sekitar Pegunungan Meratus membuat harga pisang murah. Harga bahan baku yang murah membuat Maslan tak sedikit meraup untung. Dari harga pisang Rp2500 per seratusnya atau Rp25.000 per seribu biji pisang, ia jual Rp50.000 per seribu biji atau keuntungan 50 persen dari modal yang dikeluarkan.
Ditambah lagi, kata Maslan yang telah berhaji juga dari penghasilannya manyalai, dulu kayu bakar, yang juga menjadi komponen utama manyalai, masih mudah didapat di sekitar hutan di Binuang tanpa harus membeli. “Kalau sekarang modal bertambah untuk membeli kayu bakar sebesar Rp150.000 per satu pick up. Satu pick up kayu karet bisa digunakan sampai 4 kali manyalai,” kata H Maslan.
***
Tahun bertambah, Kecamatan Binuang tumbuh dan berkembang. Sektor pertanian yang semula menjadi tumpuan utama sebagian besar warganya mulai berubah ke sektor industri dengan beroperasinya beberapa perusahaan tambang batu bara yang dimotori tokoh-tokoh lokal Binuang, ‘memanfaatkan’ bagian lain kekayaan yang dikandung bumi Binuang.
Sejak sekitar tahun 2000, berhektare-hektare lahan pertanian warga, termasuk lahan-lahan pertanian tempat pohon-pohon pisang dulu tumbuh subur dibayar mahal oleh para pengusaha untuk selanjut dibongkar dan dikeruk isinya dan hanya menyisakan lubang-lubang galian ukuran raksasa.
Meski tak ingin menyebut keberadaan perusahaan-perusaan tambang batu bara itu penyebab kian berkurangnya produksi pisang di Binuang, tapi itulah kenyataan yang harus di hadapi Maslan sejak era 2000-an. Pisang awak kian hilang, kalaupun ada harganya tentu tak akan sama seperti dulu saat pisang masih melimpah dan memenuhi hampir setiap sudut hari pasaran Pasar Binuang saban Rabu.
Kondisi itu diperparah oleh serangan hama yang masif membunuh pohon-pohon pisang milik petani sekitar tahun 2008. “Memang masih ada pisang awak di Binuang tapi tak banyak dan kualitasnya buruk, keras dan berwarna hitam di bagian tengahnya. Pisang seperti itu kami biasanya menyebutnya pisang berbatu bara,” kata Maslan.
Meski tak semua lahan pertanian berubah jadi lokasi tambang, menurut H Maslan, dampak dari aktifitas pertambangan berupa debu batu bara dari lokasi-lokasi tambang mengontaminasi pohon-pohon pisang yang menyebabkan buah pisang mengeras dan hitam di bagian dalamnya.
Karena pisang awak kian susah di dapat di Binuang, Maslan kini membeli pisang-pisang awak dari petani di daerah Barabai, HSS. “Kalau dulu paling sedikit manyalai 15 ribu biji, tapi sekarang paling banyak hanya 5 ribu biji,” ujar H Maslan. (rudiyanto)
Banyak Yang Gulung Tikar
Jika Maslan tetap bertahan manyalai di tengah kian sulitnya mendapatkan bahan baku pisang awak, berbeda lagi dengan Misrani (68). Sejak lima tahun silam, warga Desa Sarang Burung ini menyudahi usaha pembuatan rimpinya secara permanen.
Menurut Masrani, selain kian sulit dan mahalnya bahan baku, sektor pemasaran yang menjadi hilir semua produk olahan, termasuk rimpi yang kian menurun menjadi alasan lainnya berhenti manyalai.
“Karena telah diproduksi sejak puluhan tahun silam sampai sekarang, rimpi menjadi ciri khas Binuang, bahkan Tapin. Tapi kian tahun penjuMaslan rimpi dirasa kian menurun, mungkin karena di beberapa daerah lain di liuar Binuang juga ada olahan serupa, seperti di Jawa,” kata Masrani.
Puncaknya, kata Masrani, api yang digunakan memanggang pisang justru membakar gudang milik Masrani. “Sejak itu saya benar-benar berhenti manyalai, selain tak lagi ada modal untuk membeli pisang awak yang kian mahal, penjulan rimpi yang tak seramai dulu menjadi alasan lain saya,” kata Masrani.
Menurunnya penjulan rimpi Binuang itu diamini Hj Yayah, salah satu pemilik toko penyedia jajanan dan oleh-oleh yang jugamenjual rimpi. Menurut Hj Yayah, dulu, 5 ribu rimpi yang ia beli langsung pembuatnya habis terjuual dalam sepekan. “Tapi sekarang 2 ribu biji rimpi saja jarang habis dalam satu minggunya,” kata Hj Yayah.
Kendati jumlah pembuat rimpi di Binuang kian berkurang seiring kian menghilangnya bahan baku pisang, namun ia optimis rimpi tak akan hilang dari Binuang. Meski tak ada program atau berupa pembinaan khusus pada para pembuat rimpi, selama masih ada warga Binuang yang manyalai, H Maslan salah satunya, rimpi akan tetap ada di Binuang. (rudiyanto)
















 Salai Pisang di Gilas Tambang
Tak kurang dari lima belas ribu biji pisang jenis awak yang sudah matang ia kupas bersama Biah, isterinya dan dua anak perempuannya. Belum sampai separo dari semua pisang yang harus dikupas, H Maslan beranjak meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih juga memisahkan pisang dari kulitnya.
Laki-laki lebih paro baya ini melangkah menuju sebuah gudang berukuran sekitar 2 X 6 meter di bagian belakang rumah di Jalan Raya Barat, Rt 1, Binuang. Beberapa kayu bakar berkuran besar tanpa dibelah, ia masukkan ke dalam gudang.
Tak lama kemudian, asap mengepul dari dalam gudang seiring api yang dinyalakan Maslan. Di antara api yang kian  membesar, ia terus menambah bilah-bilah kayu bakar. Setelah hawa panas api benar-benar terasa hingga di sudut-sudut gudang, Maslan kembali menuju teras rumah di mana istri dan kedua  anaknya masih saja tekun dan sabar mengupas pisang-pisang.
Ribuan biji pisang yang sudah dikupas, ia bawa ke gudang. Pisang-pisang kemudian dipindahkan atau diampar di atas rampatai -bambu yang dianyam renggang berfungsi sebagai alas meletakkan pisang saat proses pemanggangan atau manyalai berlangsung- tepat di atas nyala api yang mulai mengubah kayu menjadi bara.
Usai maampar, Maslan kembali ke teras rumah untuk mengupas pisang bersama istri dan dua anaknya lagi. Setelah pisang yang dikumpas terkumpul cukup banyak, Maslan kembali membawanya dan maamparnya di atas rampatai di dalam gudang. Begitu seterusnya sampai semua pisang terkupas dan rampatai dalam gudang penuh dengan pisang. 
Setelah semua pisang tertampung di atas rampatai, dinding-dinding gudang yang dibuat serupa jendela ditutup rapat agar hawa panas api tak keluar. Baru setelah sekitar enam jam kemudian. Maslan akan kembali ke gudang.
Di dalam gudang, pisang-pisang yang mulai berubah warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan cairan manisnya akibat pengasapan dibalik. Tujuannya agar pisang matang merata. Untuk membalik sebanyak 15 ribu pisang, Maslan hanya memerlukan waktu tak lebih dari 15 menit.
Selesai membalik, gudang kembali ditutup rapat dan baru akan dibuka lagi sekitar enam jam kemudian. Menurut H Maslan, yang tak boleh diabaikan saat proses manyalai berlangsung, adalah api yang tak boleh padam dan mengeluarkan asap jumlah banyak. Karena jika terlalu banyak asap, pisang sale atau dalam bahasa setempat rimpi, ada juga yang menyebutnya pisang salai dalam dialek lokal, yang dihasilkan tak akan nikmat dan cenderung berbau asap.
Baru setelah sekitar 48 jam atau dua hari dua malam, api dapat dipadamkan karena rimpi telah matang dan siap dipasarkan. Untuk memasarkan rimpi olahannya, Maslan mengaku tak menemui kesulitan karena telah memiliki langganan. Langganan Maslan umumnya para pedagang di sekitar Pasar Binuang yang akan menjual lagi rimpi olahannya  Ada juga pedagang dari luar kota, seperti Banjarmasin dan Samarinda yang datang langsung ke rumah Maslan.
Para pedagang biasanya membeli rimpi olahan Maslan per seribu biji dengan harga Rp50.000,-. Sebagian rimpi ada juga yang ia jual sudah dengan kemasan. Satu kemasan berisi 10 – 12 biji rimpi.
“Tak kurang dari 30 tahun saya manyalai. Dari harga pisang Rp25 per seratus biji sampai sekarang harga pisang Rp17.000 per seratusnya. Di Binuang saya termasuk generasi pertama pembuat rimpi. Beberapa warga lain kemudian mengikuti jejak saya, sebagian besar juga belajar langsung dari saya,” kata H Maslan, akhir pekan lalu.
Melimpahnya pisang awak sebagai bahan baku utama rimpi di tanah Binuang membuat para pembuat rimpi seperti Maslan menapaki masa kejayaan. Betapa tidak, dalam sekali manyalai, minimal 15 ribu pisang awak ia olah saban 2-3 hari sekali. Nyaris tak ada celah di atas haratai di dalam gudangnya.
Pisang awak yang masih  begitu mudah didapat dari para petani Binuang yang bermukim di sekitar Pegunungan Meratus membuat harga pisang murah. Harga bahan baku yang murah membuat Maslan tak sedikit meraup untung. Dari harga pisang Rp2500 per seratusnya atau Rp25.000 per seribu biji pisang, ia jual Rp50.000 per seribu biji atau keuntungan 50 persen dari modal yang dikeluarkan.
Ditambah lagi, kata Maslan yang telah berhaji juga dari penghasilannya manyalai, dulu kayu bakar, yang juga menjadi komponen utama manyalai, masih mudah didapat di sekitar hutan di Binuang tanpa harus membeli. “Kalau sekarang modal bertambah untuk membeli kayu bakar sebesar Rp150.000 per satu pick up. Satu pick up kayu karet bisa digunakan sampai 4 kali manyalai,” kata H Maslan.
***
Tahun bertambah, Kecamatan Binuang tumbuh dan berkembang. Sektor pertanian yang semula menjadi tumpuan utama sebagian besar warganya mulai berubah ke sektor industri dengan beroperasinya beberapa perusahaan tambang batu bara yang dimotori tokoh-tokoh lokal Binuang, ‘memanfaatkan’ bagian lain kekayaan yang dikandung bumi Binuang.
Sejak sekitar tahun 2000, berhektare-hektare lahan pertanian warga, termasuk lahan-lahan pertanian tempat pohon-pohon pisang dulu tumbuh subur dibayar mahal oleh para pengusaha untuk selanjut dibongkar dan dikeruk isinya dan hanya menyisakan lubang-lubang galian ukuran raksasa.
Meski tak ingin menyebut keberadaan perusahaan-perusaan tambang batu bara itu penyebab kian berkurangnya produksi pisang di Binuang, tapi itulah kenyataan yang harus di hadapi Maslan sejak era 2000-an. Pisang awak kian hilang, kalaupun ada harganya tentu tak akan sama seperti dulu saat pisang masih melimpah dan memenuhi hampir setiap sudut hari pasaran Pasar Binuang saban Rabu.
Kondisi itu diperparah oleh serangan hama yang masif membunuh pohon-pohon pisang milik petani sekitar tahun 2008. “Memang masih ada pisang awak di Binuang tapi tak banyak dan kualitasnya buruk, keras dan berwarna hitam di bagian tengahnya. Pisang seperti itu kami biasanya menyebutnya pisang berbatu bara,” kata Maslan.
Meski tak semua lahan pertanian berubah jadi lokasi tambang, menurut H Maslan, dampak dari aktifitas pertambangan berupa debu batu bara dari lokasi-lokasi tambang mengontaminasi pohon-pohon pisang yang menyebabkan buah pisang mengeras dan hitam di bagian dalamnya.
Karena pisang awak kian susah di dapat di Binuang, Maslan kini membeli pisang-pisang awak dari petani di daerah Barabai, HSS. “Kalau dulu paling sedikit manyalai 15 ribu biji, tapi sekarang paling banyak hanya 5 ribu biji,” ujar H Maslan. (rudiyanto)
Banyak Yang Gulung Tikar
Jika Maslan tetap bertahan manyalai di tengah kian sulitnya mendapatkan bahan baku pisang awak, berbeda lagi dengan Misrani (68). Sejak lima tahun silam, warga Desa Sarang Burung ini menyudahi usaha pembuatan rimpinya secara permanen.
Menurut Masrani, selain kian sulit dan mahalnya bahan baku, sektor pemasaran yang menjadi hilir semua produk olahan, termasuk rimpi yang kian menurun menjadi alasan lainnya berhenti manyalai.
“Karena telah diproduksi sejak puluhan tahun silam sampai sekarang, rimpi menjadi ciri khas Binuang, bahkan Tapin. Tapi kian tahun penjuMaslan rimpi dirasa kian menurun, mungkin karena di beberapa daerah lain di liuar Binuang juga ada olahan serupa, seperti di Jawa,” kata Masrani.
Puncaknya, kata Masrani, api yang digunakan memanggang pisang justru membakar gudang milik Masrani. “Sejak itu saya benar-benar berhenti manyalai, selain tak lagi ada modal untuk membeli pisang awak yang kian mahal, penjulan rimpi yang tak seramai dulu menjadi alasan lain saya,” kata Masrani.
Menurunnya penjulan rimpi Binuang itu diamini Hj Yayah, salah satu pemilik toko penyedia jajanan dan oleh-oleh yang jugamenjual rimpi. Menurut Hj Yayah, dulu, 5 ribu rimpi yang ia beli langsung pembuatnya habis terjuual dalam sepekan. “Tapi sekarang 2 ribu biji rimpi saja jarang habis dalam satu minggunya,” kata Hj Yayah.
Kendati jumlah pembuat rimpi di Binuang kian berkurang seiring kian menghilangnya bahan baku pisang, namun ia optimis rimpi tak akan hilang dari Binuang. Meski tak ada program atau berupa pembinaan khusus pada para pembuat rimpi, selama masih ada warga Binuang yang manyalai, H Maslan salah satunya, rimpi akan tetap ada di Binuang. (rudiyanto)
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar