Tak kurang dari lima belas ribu biji pisang jenis awak yang sudah matang ia kupas bersama Biah,
isterinya dan dua anak perempuannya. Belum sampai separo dari semua pisang yang
harus dikupas, H Maslan beranjak meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih
juga memisahkan pisang dari kulitnya.
Laki-laki lebih paro baya ini melangkah menuju sebuah
gudang berukuran sekitar 2 X 6 meter di bagian belakang rumah di Jalan Raya
Barat, Rt 1, Binuang. Beberapa kayu bakar berkuran besar tanpa dibelah, ia
masukkan ke dalam gudang.
Tak lama kemudian, asap mengepul dari dalam gudang seiring
api yang dinyalakan Maslan. Di antara api yang kian membesar, ia terus menambah bilah-bilah kayu
bakar. Setelah hawa panas api benar-benar terasa hingga di sudut-sudut gudang, Maslan
kembali menuju teras rumah di mana istri dan kedua anaknya masih saja tekun dan sabar mengupas
pisang-pisang.
Ribuan biji pisang yang sudah dikupas, ia bawa ke
gudang. Pisang-pisang kemudian dipindahkan atau diampar di atas rampatai -bambu
yang dianyam renggang berfungsi sebagai alas meletakkan pisang saat proses pemanggangan
atau manyalai berlangsung- tepat di
atas nyala api yang mulai mengubah kayu menjadi bara.
Usai maampar,
Maslan kembali ke teras rumah untuk mengupas pisang bersama istri dan dua
anaknya lagi. Setelah pisang yang dikumpas terkumpul cukup banyak, Maslan
kembali membawanya dan maamparnya di
atas rampatai di dalam gudang. Begitu
seterusnya sampai semua pisang terkupas dan rampatai
dalam gudang penuh dengan pisang.
Setelah semua pisang tertampung di atas rampatai, dinding-dinding gudang yang
dibuat serupa jendela ditutup rapat agar hawa panas api tak keluar. Baru
setelah sekitar enam jam kemudian. Maslan akan kembali ke gudang.
Di dalam gudang, pisang-pisang yang mulai berubah
warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan cairan manisnya akibat pengasapan
dibalik. Tujuannya agar pisang matang merata. Untuk membalik sebanyak 15 ribu
pisang, Maslan hanya memerlukan waktu tak lebih dari 15 menit.
Selesai membalik, gudang kembali ditutup rapat dan
baru akan dibuka lagi sekitar enam jam kemudian. Menurut H Maslan, yang tak
boleh diabaikan saat proses manyalai
berlangsung, adalah api yang tak boleh padam dan mengeluarkan asap jumlah
banyak. Karena jika terlalu banyak asap, pisang sale atau dalam bahasa setempat
rimpi, ada juga yang menyebutnya
pisang salai dalam dialek lokal, yang
dihasilkan tak akan nikmat dan cenderung berbau asap.
Baru setelah sekitar 48 jam atau dua hari dua malam,
api dapat dipadamkan karena rimpi telah matang dan siap dipasarkan. Untuk
memasarkan rimpi olahannya, Maslan mengaku tak menemui kesulitan karena telah
memiliki langganan. Langganan Maslan umumnya para pedagang di sekitar Pasar Binuang
yang akan menjual lagi rimpi olahannya Ada juga pedagang dari luar kota, seperti Banjarmasin
dan Samarinda yang datang langsung ke rumah Maslan.
Para pedagang biasanya membeli rimpi olahan Maslan
per seribu biji dengan harga Rp50.000,-. Sebagian rimpi ada juga yang ia jual
sudah dengan kemasan. Satu kemasan berisi 10 – 12 biji rimpi.
“Tak kurang dari 30 tahun saya manyalai. Dari harga pisang Rp25 per seratus biji sampai sekarang
harga pisang Rp17.000 per seratusnya. Di Binuang saya termasuk generasi pertama
pembuat rimpi. Beberapa warga lain kemudian mengikuti jejak saya, sebagian
besar juga belajar langsung dari saya,” kata H Maslan, akhir pekan lalu.
Melimpahnya pisang awak sebagai bahan baku utama rimpi di tanah Binuang membuat para
pembuat rimpi seperti Maslan menapaki masa kejayaan. Betapa tidak, dalam sekali
manyalai, minimal 15 ribu pisang awak ia olah saban 2-3 hari sekali.
Nyaris tak ada celah di atas haratai di dalam gudangnya.
Pisang awak
yang masih begitu mudah didapat dari
para petani Binuang yang bermukim di sekitar Pegunungan Meratus membuat harga pisang
murah. Harga bahan baku yang murah membuat Maslan tak sedikit meraup untung.
Dari harga pisang Rp2500 per seratusnya atau Rp25.000 per seribu biji pisang,
ia jual Rp50.000 per seribu biji atau keuntungan 50 persen dari modal yang
dikeluarkan.
Ditambah lagi, kata Maslan yang telah berhaji juga
dari penghasilannya manyalai, dulu
kayu bakar, yang juga menjadi komponen utama manyalai, masih mudah didapat di sekitar hutan di Binuang tanpa
harus membeli. “Kalau sekarang modal bertambah untuk membeli kayu bakar sebesar
Rp150.000 per satu pick up. Satu pick up kayu karet bisa digunakan sampai
4 kali manyalai,” kata H Maslan.
***
Tahun bertambah, Kecamatan Binuang tumbuh dan
berkembang. Sektor pertanian yang semula menjadi tumpuan utama sebagian besar
warganya mulai berubah ke sektor industri dengan beroperasinya beberapa
perusahaan tambang batu bara yang dimotori tokoh-tokoh lokal Binuang,
‘memanfaatkan’ bagian lain kekayaan yang dikandung bumi Binuang.
Sejak sekitar tahun 2000, berhektare-hektare lahan
pertanian warga, termasuk lahan-lahan pertanian tempat pohon-pohon pisang dulu
tumbuh subur dibayar mahal oleh para pengusaha untuk selanjut dibongkar dan
dikeruk isinya dan hanya menyisakan lubang-lubang galian ukuran raksasa.
Meski tak ingin menyebut keberadaan
perusahaan-perusaan tambang batu bara itu penyebab kian berkurangnya produksi
pisang di Binuang, tapi itulah kenyataan yang harus di hadapi Maslan sejak era
2000-an. Pisang awak kian hilang,
kalaupun ada harganya tentu tak akan sama seperti dulu saat pisang masih
melimpah dan memenuhi hampir setiap sudut hari pasaran Pasar Binuang saban
Rabu.
Kondisi itu diperparah oleh serangan hama yang masif
membunuh pohon-pohon pisang milik petani sekitar tahun 2008. “Memang masih ada
pisang awak di Binuang tapi tak banyak
dan kualitasnya buruk, keras dan berwarna hitam di bagian tengahnya. Pisang
seperti itu kami biasanya menyebutnya pisang berbatu bara,” kata Maslan.
Meski tak semua lahan pertanian berubah jadi lokasi
tambang, menurut H Maslan, dampak dari aktifitas pertambangan berupa debu batu
bara dari lokasi-lokasi tambang mengontaminasi pohon-pohon pisang yang
menyebabkan buah pisang mengeras dan hitam di bagian dalamnya.
Karena pisang awak
kian susah di dapat di Binuang, Maslan kini membeli pisang-pisang awak dari petani di daerah Barabai, HSS.
“Kalau dulu paling sedikit manyalai
15 ribu biji, tapi sekarang paling banyak hanya 5 ribu biji,” ujar H Maslan.
(rudiyanto)
Banyak
Yang Gulung Tikar
Jika Maslan tetap bertahan manyalai di tengah kian sulitnya mendapatkan bahan baku pisang awak, berbeda lagi dengan Misrani (68).
Sejak lima tahun silam, warga Desa Sarang Burung ini menyudahi usaha pembuatan rimpinya
secara permanen.
Menurut Masrani, selain kian sulit dan mahalnya
bahan baku, sektor pemasaran yang menjadi hilir semua produk olahan, termasuk rimpi
yang kian menurun menjadi alasan lainnya berhenti manyalai.
“Karena telah diproduksi sejak puluhan tahun silam
sampai sekarang, rimpi menjadi ciri khas Binuang, bahkan Tapin. Tapi kian tahun
penjuMaslan rimpi dirasa kian menurun, mungkin karena di beberapa daerah lain
di liuar Binuang juga ada olahan serupa, seperti di Jawa,” kata Masrani.
Puncaknya, kata Masrani, api yang digunakan
memanggang pisang justru membakar gudang milik Masrani. “Sejak itu saya
benar-benar berhenti manyalai, selain
tak lagi ada modal untuk membeli pisang awak
yang kian mahal, penjulan rimpi yang tak seramai dulu menjadi alasan lain
saya,” kata Masrani.
Menurunnya penjulan rimpi Binuang itu diamini Hj
Yayah, salah satu pemilik toko penyedia jajanan dan oleh-oleh yang jugamenjual rimpi.
Menurut Hj Yayah, dulu, 5 ribu rimpi yang ia beli langsung pembuatnya habis
terjuual dalam sepekan. “Tapi sekarang 2 ribu biji rimpi saja jarang habis
dalam satu minggunya,” kata Hj Yayah.
Kendati jumlah pembuat rimpi di Binuang kian
berkurang seiring kian menghilangnya bahan baku pisang, namun ia optimis rimpi tak
akan hilang dari Binuang. Meski tak ada program atau berupa pembinaan khusus
pada para pembuat rimpi, selama masih ada warga Binuang yang manyalai, H Maslan salah satunya, rimpi
akan tetap ada di Binuang. (rudiyanto)
Salai
Pisang di Gilas Tambang
Tak kurang dari lima belas ribu biji pisang jenis awak yang sudah matang ia kupas bersama Biah,
isterinya dan dua anak perempuannya. Belum sampai separo dari semua pisang yang
harus dikupas, H Maslan beranjak meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih
juga memisahkan pisang dari kulitnya.
Laki-laki lebih paro baya ini melangkah menuju sebuah
gudang berukuran sekitar 2 X 6 meter di bagian belakang rumah di Jalan Raya
Barat, Rt 1, Binuang. Beberapa kayu bakar berkuran besar tanpa dibelah, ia
masukkan ke dalam gudang.
Tak lama kemudian, asap mengepul dari dalam gudang seiring
api yang dinyalakan Maslan. Di antara api yang kian membesar, ia terus menambah bilah-bilah kayu
bakar. Setelah hawa panas api benar-benar terasa hingga di sudut-sudut gudang, Maslan
kembali menuju teras rumah di mana istri dan kedua anaknya masih saja tekun dan sabar mengupas
pisang-pisang.
Ribuan biji pisang yang sudah dikupas, ia bawa ke
gudang. Pisang-pisang kemudian dipindahkan atau diampar di atas rampatai -bambu
yang dianyam renggang berfungsi sebagai alas meletakkan pisang saat proses pemanggangan
atau manyalai berlangsung- tepat di
atas nyala api yang mulai mengubah kayu menjadi bara.
Usai maampar,
Maslan kembali ke teras rumah untuk mengupas pisang bersama istri dan dua
anaknya lagi. Setelah pisang yang dikumpas terkumpul cukup banyak, Maslan
kembali membawanya dan maamparnya di
atas rampatai di dalam gudang. Begitu
seterusnya sampai semua pisang terkupas dan rampatai
dalam gudang penuh dengan pisang.
Setelah semua pisang tertampung di atas rampatai, dinding-dinding gudang yang
dibuat serupa jendela ditutup rapat agar hawa panas api tak keluar. Baru
setelah sekitar enam jam kemudian. Maslan akan kembali ke gudang.
Di dalam gudang, pisang-pisang yang mulai berubah
warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan cairan manisnya akibat pengasapan
dibalik. Tujuannya agar pisang matang merata. Untuk membalik sebanyak 15 ribu
pisang, Maslan hanya memerlukan waktu tak lebih dari 15 menit.
Selesai membalik, gudang kembali ditutup rapat dan
baru akan dibuka lagi sekitar enam jam kemudian. Menurut H Maslan, yang tak
boleh diabaikan saat proses manyalai
berlangsung, adalah api yang tak boleh padam dan mengeluarkan asap jumlah
banyak. Karena jika terlalu banyak asap, pisang sale atau dalam bahasa setempat
rimpi, ada juga yang menyebutnya
pisang salai dalam dialek lokal, yang
dihasilkan tak akan nikmat dan cenderung berbau asap.
Baru setelah sekitar 48 jam atau dua hari dua malam,
api dapat dipadamkan karena rimpi telah matang dan siap dipasarkan. Untuk
memasarkan rimpi olahannya, Maslan mengaku tak menemui kesulitan karena telah
memiliki langganan. Langganan Maslan umumnya para pedagang di sekitar Pasar Binuang
yang akan menjual lagi rimpi olahannya Ada juga pedagang dari luar kota, seperti Banjarmasin
dan Samarinda yang datang langsung ke rumah Maslan.
Para pedagang biasanya membeli rimpi olahan Maslan
per seribu biji dengan harga Rp50.000,-. Sebagian rimpi ada juga yang ia jual
sudah dengan kemasan. Satu kemasan berisi 10 – 12 biji rimpi.
“Tak kurang dari 30 tahun saya manyalai. Dari harga pisang Rp25 per seratus biji sampai sekarang
harga pisang Rp17.000 per seratusnya. Di Binuang saya termasuk generasi pertama
pembuat rimpi. Beberapa warga lain kemudian mengikuti jejak saya, sebagian
besar juga belajar langsung dari saya,” kata H Maslan, akhir pekan lalu.
Melimpahnya pisang awak sebagai bahan baku utama rimpi di tanah Binuang membuat para
pembuat rimpi seperti Maslan menapaki masa kejayaan. Betapa tidak, dalam sekali
manyalai, minimal 15 ribu pisang awak ia olah saban 2-3 hari sekali.
Nyaris tak ada celah di atas haratai di dalam gudangnya.
Pisang awak
yang masih begitu mudah didapat dari
para petani Binuang yang bermukim di sekitar Pegunungan Meratus membuat harga pisang
murah. Harga bahan baku yang murah membuat Maslan tak sedikit meraup untung.
Dari harga pisang Rp2500 per seratusnya atau Rp25.000 per seribu biji pisang,
ia jual Rp50.000 per seribu biji atau keuntungan 50 persen dari modal yang
dikeluarkan.
Ditambah lagi, kata Maslan yang telah berhaji juga
dari penghasilannya manyalai, dulu
kayu bakar, yang juga menjadi komponen utama manyalai, masih mudah didapat di sekitar hutan di Binuang tanpa
harus membeli. “Kalau sekarang modal bertambah untuk membeli kayu bakar sebesar
Rp150.000 per satu pick up. Satu pick up kayu karet bisa digunakan sampai
4 kali manyalai,” kata H Maslan.
***
Tahun bertambah, Kecamatan Binuang tumbuh dan
berkembang. Sektor pertanian yang semula menjadi tumpuan utama sebagian besar
warganya mulai berubah ke sektor industri dengan beroperasinya beberapa
perusahaan tambang batu bara yang dimotori tokoh-tokoh lokal Binuang,
‘memanfaatkan’ bagian lain kekayaan yang dikandung bumi Binuang.
Sejak sekitar tahun 2000, berhektare-hektare lahan
pertanian warga, termasuk lahan-lahan pertanian tempat pohon-pohon pisang dulu
tumbuh subur dibayar mahal oleh para pengusaha untuk selanjut dibongkar dan
dikeruk isinya dan hanya menyisakan lubang-lubang galian ukuran raksasa.
Meski tak ingin menyebut keberadaan
perusahaan-perusaan tambang batu bara itu penyebab kian berkurangnya produksi
pisang di Binuang, tapi itulah kenyataan yang harus di hadapi Maslan sejak era
2000-an. Pisang awak kian hilang,
kalaupun ada harganya tentu tak akan sama seperti dulu saat pisang masih
melimpah dan memenuhi hampir setiap sudut hari pasaran Pasar Binuang saban
Rabu.
Kondisi itu diperparah oleh serangan hama yang masif
membunuh pohon-pohon pisang milik petani sekitar tahun 2008. “Memang masih ada
pisang awak di Binuang tapi tak banyak
dan kualitasnya buruk, keras dan berwarna hitam di bagian tengahnya. Pisang
seperti itu kami biasanya menyebutnya pisang berbatu bara,” kata Maslan.
Meski tak semua lahan pertanian berubah jadi lokasi
tambang, menurut H Maslan, dampak dari aktifitas pertambangan berupa debu batu
bara dari lokasi-lokasi tambang mengontaminasi pohon-pohon pisang yang
menyebabkan buah pisang mengeras dan hitam di bagian dalamnya.
Karena pisang awak
kian susah di dapat di Binuang, Maslan kini membeli pisang-pisang awak dari petani di daerah Barabai, HSS.
“Kalau dulu paling sedikit manyalai
15 ribu biji, tapi sekarang paling banyak hanya 5 ribu biji,” ujar H Maslan.
(rudiyanto)
Banyak
Yang Gulung Tikar
Jika Maslan tetap bertahan manyalai di tengah kian sulitnya mendapatkan bahan baku pisang awak, berbeda lagi dengan Misrani (68).
Sejak lima tahun silam, warga Desa Sarang Burung ini menyudahi usaha pembuatan rimpinya
secara permanen.
Menurut Masrani, selain kian sulit dan mahalnya
bahan baku, sektor pemasaran yang menjadi hilir semua produk olahan, termasuk rimpi
yang kian menurun menjadi alasan lainnya berhenti manyalai.
“Karena telah diproduksi sejak puluhan tahun silam
sampai sekarang, rimpi menjadi ciri khas Binuang, bahkan Tapin. Tapi kian tahun
penjuMaslan rimpi dirasa kian menurun, mungkin karena di beberapa daerah lain
di liuar Binuang juga ada olahan serupa, seperti di Jawa,” kata Masrani.
Puncaknya, kata Masrani, api yang digunakan
memanggang pisang justru membakar gudang milik Masrani. “Sejak itu saya
benar-benar berhenti manyalai, selain
tak lagi ada modal untuk membeli pisang awak
yang kian mahal, penjulan rimpi yang tak seramai dulu menjadi alasan lain
saya,” kata Masrani.
Menurunnya penjulan rimpi Binuang itu diamini Hj
Yayah, salah satu pemilik toko penyedia jajanan dan oleh-oleh yang jugamenjual rimpi.
Menurut Hj Yayah, dulu, 5 ribu rimpi yang ia beli langsung pembuatnya habis
terjuual dalam sepekan. “Tapi sekarang 2 ribu biji rimpi saja jarang habis
dalam satu minggunya,” kata Hj Yayah.
Kendati jumlah pembuat rimpi di Binuang kian
berkurang seiring kian menghilangnya bahan baku pisang, namun ia optimis rimpi tak
akan hilang dari Binuang. Meski tak ada program atau berupa pembinaan khusus
pada para pembuat rimpi, selama masih ada warga Binuang yang manyalai, H Maslan salah satunya, rimpi
akan tetap ada di Binuang. (rudiyanto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar