Dumping
meraung-raung
di atas lanting beratap beberapa lembar seng yang sudah berkarat. Suara
mesin diesel berbahan bakar solar itu begitu memekak telinga, mengusir senyap dan
hening yang semula membekap kawasan Sungai Batu Hitam, salah satu sungai yang
bermuara ke Sungai Riam Kanan, di Desa Mandi Kapau, Karang Intan.
Gaduh
suara mesin diesel bertambah tatkala satu mesin kompresor berukuran kecil juga dinyalakan. Lanting tempat
mesin-mesin dumping ditambatkan makin bergetar. Getarannya bahkan membuat
air di sekitarnya bergolak, menciptakan riak air di atas permukaan sungai.
Di
atas lanting, di antara dumping yang semakin panas, dua pria tampak
sibuk. Sesekali matanya melihat ke arah dua selang panjang mengambang di atas
permukaan air. Salah satu selang terhubung ke kompresor. Sedang ujungnya terjulur
ke kedalaman sungai yang diperkirakan mencapai 30 meter itu.
Dari
arah selang yang terjulur ke kedalaman sungai dan tak terlihat ujungnya itu,
buih dan gelembung air muncul ke permukaan, pertanda ada tekanan udara yang keluar
dari dasar sungai. Tak lama berselang, Supiansyah (35) yang mengenakan kacamata
selam, dengan mulut yang masih menggigit ujung selang sebagai alat bantu
bernapas saat berada dalam air, muncul ke permukaan.
Ian, begitu pria satu anak ini biasa disapa, adalah satu
dari sekian banyak warga Desa Mandi Kapau, Karang Intan yang berprofesi sebagai
penyelam tradisional untuk menyedot pasir dan koral dari dasar sungai.
“Bergantian. Setelah saya, seorang yang lain akan
menyusul menyelam menggantikan saya di dasar sungai untuk memegangi ujung
selang selama proses penyedotan pasir dan koral berlangsung,” kata Ian kepada pekan
lalu.
Ian dan para penyelam tradisional ini, hanya mengandalkan
tekanan udara dari sebuah mesin kompresor untuk menyelam hingga kedalaman 30
meter. Tak ada perlengkapan standar penyelaman yang mereka pakai. Kendari saat menyelam dan berada di dasar sungai,
bahaya selalu mengancam.
Menyedot
pasir dan koral dari dasar Sungai Batu Hitam, dengan mengadalkan tekanan udara
dari kompresor sudah dilakoni Ian sekitar 10 tahun. Dan selama itu pula, ia
mengaku bak selalu diintai malaikat pencabut nyawa.
Saat
berada di dasar sungai, Ian acapkali merasa nyawanya tinggal setengah, dan baru
akan kembali utuh saat muncul di permukaan. “Tapi ya inilah pekerjaan yang
harus kami jalani. Dan sebagian besar masyarakat di sini berprofesi sebagai
penyelam untuk mengangkat pasir dan koral dari dasar sungai,” katanya.
***
Diceritakan
Ian, penyelaman dimulai sekitar pukul 11.00 Wita. Namun sejak sekitar pukul
09.00 Wita, Ian dan empat pekerja lainnya sudah berada di atas lanting,
menyiapkan segala sesuatunya sebelum penyelaman dilakukan.
Umumnya,
satu kelompok terdiri dari empat sampai lima orang. Dua di antaranya bertugas
di bawah air sebagai penyelam. Sisanya mengurusi koral dan pasir yang sudah
terangkat oleh selang penyedot.
Sebelum
penyelaman dimulai, kata Ian, pengecekan kompresor dan selang penting dilakukan.
Tujuannya, menghindari risiko kebocoran selang yang menyebabkan tekanan udara
terhambat dan membahayakan keselamatan penyelam saat berada di dasar sungai.
Setelah
semuanya dalam kondisi baik, udara keluar dari ujung selang, penjelajahan dasar
sungai pun dilakukan. Penyelam, termasuk Ian mulai menengelamkan tubuhnya
hingga ke dasar sungai terdalam.
Sebelum
mesin dumping penyedot pasir dinyalakan, penyelam terlebih dulu harus mencari
titik penyedotan di dasar sungai yang masih banyak terdapat pasir dan koralnya.
Menurutnya,
bagian dasar sungai yang masih banyak pasir dank oral, yang belum menyentuh ampar
(bagian dasar sungai yang sudah keras) dan tak lagi bisa disedot dengan mesin dumping.
“Bagian dasar sungai sama persis dengan lokasi pendulangan intan yang berlubang
raksasa karena penyedotan,” kata Ian.
Setelah
titik penyedotan ditemukan, lanjutnya, penyelam harus naik kepermukaan untuk
memberitahu rekan yang berada di atas lanting agar segera menyalakan
mesin dumping. Tak lama kemudian, penyelam kembali ke dasar sungai untuk
menlanjutkan tugas yang baru saja akan dimulai.
Menurut
Ian, proses peyedotan berlangsung hingga lebih dari enam jam. Dan selama itu
pula, penyelam harus tetap memegani ujung selang, atau biasa disebut selang
jet. Dan selama itu pula, ia harus menahan dinginnya air dan derasnya arus
sungai di kedalaman lebih dari 30 meter itu. “Penyedotan paling cepat berlangsung
tiga jam,” katanya.
Selain
dingin dan derasnya arus dasar sungai, rasa lapar adalah yang juga harus
ditaklukkan. Karena terkadar lapar dapat menghambat proses penyedotan. Dan di dasar
sungai, tak mungkin membawa bekal wujud makanan. Skadar untuk mengganjal lapar,
penyelam seperti Ian, biasanya membawa minuman jeli dalam kemasan. Jeli yang
bertekstur kenyal, memungkinkan dimakan meski terkadang air sungai ikut
tersedot masuk ke kerongkongan. “Biasanya saya sangu jelly drink,”
kata bapak satu anak ini.
Selama
proses penyedotan berlangsung, beberapa orang mengurus pasir dan koral yang
sudah mulai terangkat ke permukaan. Mereka mengumpulkannya di tepian sungai
hingga diangkut ke truk-truk pembeli. Dalam seahrai, satu kelompok penyedot
rata-rata mampu mengangkat sebanyak 8 – 10 kubik pasir.
Penghasilan yang Tak Sebanding
Risiko
Pasir dan koral yang berhasil
terangkat tinggal menunggu pembeli. Dari penjulan pasir dan koral hasil
penyedotan, pemilik mesin lebih dulu mendapat jatah 20 persennya. Sisanya,
dibagi rata sesuai jumlah orang dalam satu kelompok.
Besaran penghasilan yang
diterima, menurut Ian tak sama, tergantung kubikasi pasir dan koral yang
berhasil disedot. “Jika dirata-rata, dalam seminggu saya menerima sebesar Rp300
ribu. Hanya jika beruntung, intan dan emas terkadang ikut terangkat,” ujarnya.
Penghasilan
yang tak cukup sebanding dengan risiko besar yang harus dihadapi. Pasalnya,
saban hari para penyelam ini harus berhadapan dengan bahaya yang setiap saat
siap merenggut nyawa. Tebing-tebing setinggi hingga lima meter didasar sungai
yang terbentuk karena proses penyedotan itu, setiap saat bisa saja roboh dan
menimpa.
Seperti
pernah dialami Ian beberapa tahun silam. Diceritakannya, kala itu penyelamaan baru
berjalan sekitar satu jam, dan tiba-tiba saja tebing di dasar sungai runtuh dan
mengubur tubuhnya. Beruntung rekan kerja yang menjaga di atas lanting segera
mengetahui nya dan bergegas menyelam menyelamatkannya.
Ia saat itu sempat tak bernapas karena sudah terlalu
banyak air yang masuk ke pertnya. Tapi untungnya, nyawa Ian masih bisa
diselamatkan.
“Saat itu saya melihat air yang keluar dari selang jet
penyedot berubah jernih. Dan saya tahu bahwa di dasar sungai ada masalah yang
terjadi,” kata Syaiful, sesama penyelam yang masih satu kelompok dengan Ian.
Melihat air berubah jernih, Syaiful bergegas
menyelam ke dasar sungai. Dan benar, di dasar sungai ia melihat tubuh Ian
tertimpa longsoran tanah. “beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan meski
sebelumnya sempat pingsan,” katanya. (rudiyanto)
Tuli atau Mati
Tingginya risiko yang
dihadapi penyelam, menuntut kerjasama dan senantiasa waspada antar sesama
pekerja. Karena jika tidak, nyawa menjadi taruhannya. Peristiwa yang pernah
dialami Ian salah satu contohnya. Berkat kesigapan Syaiful, nyawanya
terselamatkan.
Menurut Syaiful, tidak sulit
mengetahui jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa penyelam di dasar air. Saat
air yang keluar dari selang penyedot berubah putih, merupakan tanda kuat selang
jet tak lagi tertancap ke dalam tanah di dasar sungai. Itu berarti,
selang telah terlepas dari pegangan si penyelam.
“Jika itu terjadi maka yang
diatas lanting harus segera menyelam. Karena bisa dipastikan terjadi
kecelakaan kerja di dasar sana,” kata Syaiful.
Selain bahaya yang setiap
saat megancam nyawa, penyelaman dengan hanya mengandalkan selang kompresor
sebagai suplai udara, tanpa perlengkapan standar menyelam, para penyelam riskan
mengalami gangguan pendengaran.
Menurutnya, ini terjadi
karena kedalaman penyelaman yang mencapai puluhan meter. “Risiko paling ringan
bagi penyelam tradisional seperti kami adalah gangguan pendengaran. Tuli
menjadi risiko yang paling umum dialami penyelam,” katanya. (rudiyanto)
Teks Foto 1:
Dua lanting di tengah Sungai
Batu Hitam, Mandi Kapau, Kecamatan Karang Intan, tempat mesin dumping
penyedot pasir dank oral ditambatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar