Jumat, 15 April 2016

Menyelami Sumber Kehidupan di Dasar Sungai

Dumping meraung-raung di atas lanting beratap beberapa lembar seng yang sudah berkarat. Suara mesin diesel berbahan bakar solar itu begitu memekak telinga, mengusir senyap dan hening yang semula membekap kawasan Sungai Batu Hitam, salah satu sungai yang bermuara ke Sungai Riam Kanan, di Desa Mandi Kapau, Karang Intan.

Gaduh suara mesin diesel bertambah tatkala satu mesin kompresor berukuran kecil juga dinyalakan. Lanting tempat mesin-mesin dumping ditambatkan makin bergetar. Getarannya bahkan membuat air di sekitarnya bergolak, menciptakan riak air di atas permukaan sungai.

Di atas lanting, di antara dumping yang semakin panas, dua pria tampak sibuk. Sesekali matanya melihat ke arah dua selang panjang mengambang di atas permukaan air. Salah satu selang terhubung ke kompresor. Sedang ujungnya terjulur ke kedalaman sungai yang diperkirakan mencapai 30 meter itu.

Dari arah selang yang terjulur ke kedalaman sungai dan tak terlihat ujungnya itu, buih dan gelembung air muncul ke permukaan, pertanda ada tekanan udara yang keluar dari dasar sungai. Tak lama berselang, Supiansyah (35) yang mengenakan kacamata selam, dengan mulut yang masih menggigit ujung selang sebagai alat bantu bernapas saat berada dalam air, muncul ke permukaan.

Ian, begitu pria satu anak ini biasa disapa, adalah satu dari sekian banyak warga Desa Mandi Kapau, Karang Intan yang berprofesi sebagai penyelam tradisional untuk menyedot pasir dan koral dari dasar sungai.

“Bergantian. Setelah saya, seorang yang lain akan menyusul menyelam menggantikan saya di dasar sungai untuk memegangi ujung selang selama proses penyedotan pasir dan koral berlangsung,” kata Ian kepada pekan lalu.

Ian dan para penyelam tradisional ini, hanya mengandalkan tekanan udara dari sebuah mesin kompresor untuk menyelam hingga kedalaman 30 meter. Tak ada perlengkapan standar penyelaman yang mereka pakai. Kendari  saat menyelam dan berada di dasar sungai, bahaya selalu mengancam.

Menyedot pasir dan koral dari dasar Sungai Batu Hitam, dengan mengadalkan tekanan udara dari kompresor sudah dilakoni Ian sekitar 10 tahun. Dan selama itu pula, ia mengaku bak selalu diintai malaikat pencabut nyawa.

Saat berada di dasar sungai, Ian acapkali merasa nyawanya tinggal setengah, dan baru akan kembali utuh saat muncul di permukaan. “Tapi ya inilah pekerjaan yang harus kami jalani. Dan sebagian besar masyarakat di sini berprofesi sebagai penyelam untuk mengangkat pasir dan koral dari dasar sungai,” katanya.

***

Diceritakan Ian, penyelaman dimulai sekitar pukul 11.00 Wita. Namun sejak sekitar pukul 09.00 Wita, Ian dan empat pekerja lainnya sudah berada di atas lanting, menyiapkan segala sesuatunya sebelum penyelaman dilakukan.

Umumnya, satu kelompok terdiri dari empat sampai lima orang. Dua di antaranya bertugas di bawah air sebagai penyelam. Sisanya mengurusi koral dan pasir yang sudah terangkat oleh selang penyedot.

Sebelum penyelaman dimulai, kata Ian, pengecekan kompresor dan selang penting dilakukan. Tujuannya, menghindari risiko kebocoran selang yang menyebabkan tekanan udara terhambat dan membahayakan keselamatan penyelam saat berada di dasar sungai.

Setelah semuanya dalam kondisi baik, udara keluar dari ujung selang, penjelajahan dasar sungai pun dilakukan. Penyelam, termasuk Ian mulai menengelamkan tubuhnya hingga ke dasar sungai terdalam.

Sebelum mesin dumping penyedot pasir dinyalakan, penyelam terlebih dulu harus mencari titik penyedotan di dasar sungai yang masih banyak terdapat pasir dan koralnya.

Menurutnya, bagian dasar sungai yang masih banyak pasir dank oral, yang belum menyentuh ampar (bagian dasar sungai yang sudah keras) dan tak lagi bisa disedot dengan mesin dumping. “Bagian dasar sungai sama persis dengan lokasi pendulangan intan yang berlubang raksasa karena penyedotan,” kata Ian.

Setelah titik penyedotan ditemukan, lanjutnya, penyelam harus naik kepermukaan untuk memberitahu rekan yang berada di atas lanting agar segera menyalakan mesin dumping. Tak lama kemudian, penyelam kembali ke dasar sungai untuk menlanjutkan tugas yang baru saja akan dimulai.

Menurut Ian, proses peyedotan berlangsung hingga lebih dari enam jam. Dan selama itu pula, penyelam harus tetap memegani ujung selang, atau biasa disebut selang jet. Dan selama itu pula, ia harus menahan dinginnya air dan derasnya arus sungai di kedalaman lebih dari 30 meter itu. “Penyedotan paling cepat berlangsung tiga jam,” katanya.

Selain dingin dan derasnya arus dasar sungai, rasa lapar adalah yang juga harus ditaklukkan. Karena terkadar lapar dapat menghambat proses penyedotan. Dan di dasar sungai, tak mungkin membawa bekal wujud makanan. Skadar untuk mengganjal lapar, penyelam seperti Ian, biasanya membawa minuman jeli dalam kemasan. Jeli yang bertekstur kenyal, memungkinkan dimakan meski terkadang air sungai ikut tersedot masuk ke kerongkongan. “Biasanya saya sangu jelly drink,” kata bapak satu anak ini.

Selama proses penyedotan berlangsung, beberapa orang mengurus pasir dan koral yang sudah mulai terangkat ke permukaan. Mereka mengumpulkannya di tepian sungai hingga diangkut ke truk-truk pembeli. Dalam seahrai, satu kelompok penyedot rata-rata mampu mengangkat sebanyak 8 – 10 kubik pasir.

Penghasilan yang Tak Sebanding Risiko

Pasir dan koral yang berhasil terangkat tinggal menunggu pembeli. Dari penjulan pasir dan koral hasil penyedotan, pemilik mesin lebih dulu mendapat jatah 20 persennya. Sisanya, dibagi rata sesuai jumlah orang dalam satu kelompok.

Besaran penghasilan yang diterima, menurut Ian tak sama, tergantung kubikasi pasir dan koral yang berhasil disedot. “Jika dirata-rata, dalam seminggu saya menerima sebesar Rp300 ribu. Hanya jika beruntung, intan dan emas terkadang ikut terangkat,” ujarnya.

Penghasilan yang tak cukup sebanding dengan risiko besar yang harus dihadapi. Pasalnya, saban hari para penyelam ini harus berhadapan dengan bahaya yang setiap saat siap merenggut nyawa. Tebing-tebing setinggi hingga lima meter didasar sungai yang terbentuk karena proses penyedotan itu, setiap saat bisa saja roboh dan menimpa.

Seperti pernah dialami Ian beberapa tahun silam. Diceritakannya, kala itu penyelamaan baru berjalan sekitar satu jam, dan tiba-tiba saja tebing di dasar sungai runtuh dan mengubur tubuhnya. Beruntung rekan kerja yang menjaga di atas lanting segera mengetahui nya dan bergegas menyelam menyelamatkannya.

Ia saat itu sempat tak bernapas karena sudah terlalu banyak air yang masuk ke pertnya. Tapi untungnya, nyawa Ian masih bisa diselamatkan.
“Saat itu saya melihat air yang keluar dari selang jet penyedot berubah jernih. Dan saya tahu bahwa di dasar sungai ada masalah yang terjadi,” kata Syaiful, sesama penyelam yang masih satu kelompok dengan Ian.
Melihat air berubah jernih, Syaiful bergegas menyelam ke dasar sungai. Dan benar, di dasar sungai ia melihat tubuh Ian tertimpa longsoran tanah. “beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan meski sebelumnya sempat pingsan,” katanya. (rudiyanto)

Tuli atau Mati

Tingginya risiko yang dihadapi penyelam, menuntut kerjasama dan senantiasa waspada antar sesama pekerja. Karena jika tidak, nyawa menjadi taruhannya. Peristiwa yang pernah dialami Ian salah satu contohnya. Berkat kesigapan Syaiful, nyawanya terselamatkan.

Menurut Syaiful, tidak sulit mengetahui jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa penyelam di dasar air. Saat air yang keluar dari selang penyedot berubah putih, merupakan tanda kuat selang jet tak lagi tertancap ke dalam tanah di dasar sungai. Itu berarti, selang telah terlepas dari pegangan si penyelam.

“Jika itu terjadi maka yang diatas lanting harus segera menyelam. Karena bisa dipastikan terjadi kecelakaan kerja di dasar sana,” kata Syaiful.

Selain bahaya yang setiap saat megancam nyawa, penyelaman dengan hanya mengandalkan selang kompresor sebagai suplai udara, tanpa perlengkapan standar menyelam, para penyelam riskan mengalami gangguan pendengaran.

Menurutnya, ini terjadi karena kedalaman penyelaman yang mencapai puluhan meter. “Risiko paling ringan bagi penyelam tradisional seperti kami adalah gangguan pendengaran. Tuli menjadi risiko yang paling umum dialami penyelam,” katanya. (rudiyanto)

Teks Foto 1:
Dua lanting di tengah Sungai Batu Hitam, Mandi Kapau, Kecamatan Karang Intan, tempat  mesin dumping penyedot pasir dank oral ditambatkan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar