Kuda putih yang masih terikat tali kekang tak jauh
dari pasar Batu Tanam, Kecamatan Sambung Makmur, Kabupaten Banjar tiba-tiba
meringkik. Dari arah pasar, seorang pria bertubuh kecil dengan topi di kepala
datang menghampiri.
Saadilah (64), si empunya lantas meletakkan dua
karung ukuran kecil yang tampak tak terisi penuh dengan barang-barang keperluan
pokok beberapa meter dari tempat kunda tertambat dengan tali kekang. Satu
karung berisi sekitar 10 kilogram beras, karung satunya berisi bahan makanan
lain seperti minyak goreng, gula, dan kelapa.
Tali kekang kuda lantas ia lepas dan membawanya
mendekat ke kedua karung yang semula diletakkan. Dua karung berisi beras dan
bahan makan lain segera diletakkanya di atas punggung kuda berlapis pelana
kayu. Beres meletakkan karung, Saadilah juga naik ke atas punggung kuda. Dengan
langkah perlahan, di bawah komadonya, kuda menuyusuri jalanan yang belum
beraspal menuju rumahnya di Desa Batung, Kecamatan, Sambung Makmur..
Sembari kuda berjalan pelan Saadilah mengatakan,
sudah memanfaat tenaga kuda betina miliknya untuk mengangkut beberapa tundun
pisang hasil kebunnya ke pasar-pasar tradisional menjelang hari pasaran tiba
sejak puluhan tahun silam.
Salah satunya pasar yang rutin ia sambangi adalah
Pasar Batu Tanam yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempat tinggalnya.
“Senin dan Kamis di Pasar Batu Tanam, Selasa ke Pasar Baliangin. Kalau pisang
sedang banyak kadang sampai ke Pasar Sungkai yang ramai pada Minggu dan Rabu,”
kata Saadilah akhir pekan lalu.
Dikisahkannya, jauh sebelum Pasar Batu Tanam atau
Pasar Baliangin ada, aktifitas perniagaan warga Kecamatan Sambung Makmur
terpusat di Pasar Sungkai. Pisang adalah produk pertanian yang mendominasi kala
itu. Warga mengangkut hingga belasan
tundun pisang di atas punggung kuda. Mendaki, menuruni, dan menuyuri jalan
membawa pisang sampai ke Pasar Sungkai.
Banyaknya pisang yang dibawa, kata Saadilah, membuat
kuda tak dapat ditunggangi. pemilik kuda pun berjalan berpuluh-puluh kilometer
mengiringi derap kaki kuda sambil tetap memegang tali kendali. “Dari Desa
Bangkal tempat saya tinggal ke pasar Sungkai berjarak sekitar 15 kilometer.
Jadi harus berangkat subuh untuk sampai di pasar mejelang pagi hari,” kata
Saadilah.
Saking banyaknya warga yang menggunakan kuda sebagai
sarana angkutan ke Pasar Sungkai kala itu, membuat suasana pasar tak hanya riuh
oleh suara orang-orang yang melakukan tawar menawar, tapi juga oleh ringkikan
kuda. Jumlahnya mencapai ratusan, sehingga diperlukan area khusus memarkir
kuda-kuda. “Ongkos parkirnya Rp250 per kuda. Itu sekitar tahun 1960-an,” kata
Saadilah.
Tak hanya di Pasar Sungkai, kata Saadilah, pisang
yang masih sangat melimpah kala itu banyak juga yangdijual hingga ke Pasar
Binuang, Tapin. Peredaran rupiah masih sangat terbatas dan begitu berharga kala
itu. Sehingga perdagangan masih banyak dilakukan dengan cara barter. “Pisang
ditukar dengan barang kebutuhan pokok lainnya. Sering juga pisang dibawa pulang
karena tidak terjual,” katanya.
Kuda, kata Saadilah, berperan penting sebagai sarana
angkutan barang kala itu. Jumlahnya yang mencapai ribuan ekor dan selalu
memenuhi Pasar Sungkai menjelang hari pasaran, Minggu dan Rabu membuat Desa
Sungkai, Kecamatan Sambung Makmur kemudian terkenal dengan kuda Sungkainya.
Tak diketahui secara pasti sejak kapan kuda-kuda itu
ada. Tapi kuda-kuda itu bukanklah satwa endemik wilayah setempat. Menurut
Saadilah, kuda-kuda yang banyak tersebar hampir di seluruh desa di Kecamatan
Sambung Makmur sebagian juga tersebar di Kecamatan Binuang, Tapin itu
didatangkan dari Madura. Sebagian ada juga yang didatangkan dari Bali dan Sumbawa.
“Saya juga tidak tahu sejak kapan kuda-kuda itu ada di sini . Yang pasti waktu
saya masih kecil kuda-kuda itu sudah ada,” kata Saadilah dengan logat khas
Madura. (rudiyanto)
Tersisa
Hanya Beberapa Kuda
Hingga akhir tahun 1990-an, kuda masih banyak digunakan
untuk mengangkut pisang dan hasil pertanian lainnya. Pisang masih menjadi
primadona hasil pertanian di daerah yang didominasi pegunungan dan dataran
tinggi itu.
Namun sejak industri otomotif tumbuh dengan produk
mobil dan sepeda motornya, kuda semakin ditinggalkan. Banyak petani atau pedagang
beralih menggunakan sepeda motor untuk mengangkut pisang dan hasil pertanian
lainnya dari kebun ke pasar.
Kondisi tersebut berlanjut ketika pengusaha tambang
mulai merambah kebun-kebun warga pisang warga dan menggeruk batubara yang
banyak terdapat di dalamnya. Selain menjual lahannya pada pengusaha tambang,
warga juga banyak yang mengganti kebun pisangnya dengan karet karena dinilai
lebih menguntungkan daripada mempertahankan pohon pohon pisang mereka.
Tak hanya itu, lanjutnya, serangan hama pisang yang
pernah menyerang massal berdampak pada turunnya kwantitas hasil panen para
petani. Alhasil, satu persatu warga menjual kuda-kuda mereka. Kuda Sungkai yang
dulu jumlahnya mencapai ribuan berkurang dan mendekati kepunahan. Hanya sedikit
warga yang masih bertahan menggunakan kuda sebagai sarana angkutan.
Salah satu warga yang masih memepertahankan dan
menggunakan kuda adalah Saadilah. “Kuda yang masih ada sekarang jumlahnya
mungkin tak lebih dari 50 ekor. Di Desa Batung tempat saya tinggal kini hanya
dua warga yang masih memelihara kuda padahal dulu hampir semua warga punya,”
katanya.
Tak dapat mengendarai sepeda motor, menjadi alasan
utama Saadillah tetap menggunakan tenaga kuda. Selain itu menurutnya,
memelihara, merawat, dan menggunakan kuda lebih mudah dibanding sepeda motor.
Cukup dengan memberinya rumput dan memberinya jamu dan telur ayam kampung
sebulan sekali untuk menjaga kesehatan dan stamina kuda.
Kuda, atau curun
dalam bahas Madura, kata Saadilah, dapat digunakan di segala medan. Terlebih
lagi wilayah yang didominasi pegunagan dan dataran tinggi seperti Kecamatan
Sambung Makmur. “Sering juga pemilik kebun menyewa kuda untuk membawa hasil
panen dari kebun dibawa ke pinggir jalan karena tak ada akses jalan masuk kesana.
Hanya kuda solusinya,” kata Saadilah. (rudiyanto)
Meriah
di Peringatan Maulid Nabi.
Selain masih difungsikan sebagai sarana angkutan, di
Desa Baliangin, Kecamatan Sambung Makmur, kuda-kuda yang masih ada juga
digunakan untuk memeriahkan tradisi Mauludan yang digelar setiap tanggal 12
Maulud. Pada bulan Maulud setiap tahunnya, Pondok Pesantren Al Ihsani yang ada
di desa tersebut rutin meluluskan beberapa santrinya.
Santri pria yang lulus, kata Muaddin, salah seorang
warga Desa Baliangin, menyewa kuda-kuda itu. Kuda kemudian dihias dengan
berbagai aksesoris dari kain dan kertas berwarna mencolok. Kuda yang sudah
dihias digunakan dalam konvoi mengelilingi pondok pesantren. “Harga sewanya
antara Rp1-1,5 juta,” katanya.
Tradisi Mauludan sekaligus merayakan kelulusan
santri itu, kata Muaddin, sudah berlangsung rutin selama 17 tahun. “Di desa kami juga masih sering
menyelenggarakan lomba pacuan kuda. Biasanya dalam rangka memeringati hari
kemerdekaan,” kata Muaddin. (rudiyanto)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar