Jumat, 15 April 2016

Kuda Sungkai yang Telah Tergantikan

Kuda putih yang masih terikat tali kekang tak jauh dari pasar Batu Tanam, Kecamatan Sambung Makmur, Kabupaten Banjar tiba-tiba meringkik. Dari arah pasar, seorang pria bertubuh kecil dengan topi di kepala datang menghampiri.
Saadilah (64), si empunya lantas meletakkan dua karung ukuran kecil yang tampak tak terisi penuh dengan barang-barang keperluan pokok beberapa meter dari tempat kunda tertambat dengan tali kekang. Satu karung berisi sekitar 10 kilogram beras, karung satunya berisi bahan makanan lain seperti minyak goreng, gula, dan kelapa.
Tali kekang kuda lantas ia lepas dan membawanya mendekat ke kedua karung yang semula diletakkan. Dua karung berisi beras dan bahan makan lain segera diletakkanya di atas punggung kuda berlapis pelana kayu. Beres meletakkan karung, Saadilah juga naik ke atas punggung kuda. Dengan langkah perlahan, di bawah komadonya, kuda menuyusuri jalanan yang belum beraspal menuju rumahnya di Desa Batung, Kecamatan, Sambung Makmur..
Sembari kuda berjalan pelan Saadilah mengatakan, sudah memanfaat tenaga kuda betina miliknya untuk mengangkut beberapa tundun pisang hasil kebunnya ke pasar-pasar tradisional menjelang hari pasaran tiba sejak puluhan tahun silam.
Salah satunya pasar yang rutin ia sambangi adalah Pasar Batu Tanam yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempat tinggalnya. “Senin dan Kamis di Pasar Batu Tanam, Selasa ke Pasar Baliangin. Kalau pisang sedang banyak kadang sampai ke Pasar Sungkai yang ramai pada Minggu dan Rabu,” kata Saadilah akhir pekan lalu.
Dikisahkannya, jauh sebelum Pasar Batu Tanam atau Pasar Baliangin ada, aktifitas perniagaan warga Kecamatan Sambung Makmur terpusat di Pasar Sungkai. Pisang adalah produk pertanian yang mendominasi kala itu. Warga  mengangkut hingga belasan tundun pisang di atas punggung kuda. Mendaki, menuruni, dan menuyuri jalan membawa pisang sampai ke Pasar Sungkai.
Banyaknya pisang yang dibawa, kata Saadilah, membuat kuda tak dapat ditunggangi. pemilik kuda pun berjalan berpuluh-puluh kilometer mengiringi derap kaki kuda sambil tetap memegang tali kendali. “Dari Desa Bangkal tempat saya tinggal ke pasar Sungkai berjarak sekitar 15 kilometer. Jadi harus berangkat subuh untuk sampai di pasar mejelang pagi hari,” kata Saadilah.
Saking banyaknya warga yang menggunakan kuda sebagai sarana angkutan ke Pasar Sungkai kala itu, membuat suasana pasar tak hanya riuh oleh suara orang-orang yang melakukan tawar menawar, tapi juga oleh ringkikan kuda. Jumlahnya mencapai ratusan, sehingga diperlukan area khusus memarkir kuda-kuda. “Ongkos parkirnya Rp250 per kuda. Itu sekitar tahun 1960-an,” kata Saadilah.
Tak hanya di Pasar Sungkai, kata Saadilah, pisang yang masih sangat melimpah kala itu banyak juga yangdijual hingga ke Pasar Binuang, Tapin. Peredaran rupiah masih sangat terbatas dan begitu berharga kala itu. Sehingga perdagangan masih banyak dilakukan dengan cara barter. “Pisang ditukar dengan barang kebutuhan pokok lainnya. Sering juga pisang dibawa pulang karena tidak terjual,” katanya.
Kuda, kata Saadilah, berperan penting sebagai sarana angkutan barang kala itu. Jumlahnya yang mencapai ribuan ekor dan selalu memenuhi Pasar Sungkai menjelang hari pasaran, Minggu dan Rabu membuat Desa Sungkai, Kecamatan Sambung Makmur kemudian terkenal dengan kuda Sungkainya.
Tak diketahui secara pasti sejak kapan kuda-kuda itu ada. Tapi kuda-kuda itu bukanklah satwa endemik wilayah setempat. Menurut Saadilah, kuda-kuda yang banyak tersebar hampir di seluruh desa di Kecamatan Sambung Makmur sebagian juga tersebar di Kecamatan Binuang, Tapin itu didatangkan dari Madura. Sebagian ada juga yang didatangkan dari Bali dan Sumbawa. “Saya juga tidak tahu sejak kapan kuda-kuda itu ada di sini . Yang pasti waktu saya masih kecil kuda-kuda itu sudah ada,” kata Saadilah dengan logat khas Madura. (rudiyanto)
Tersisa Hanya Beberapa Kuda
Hingga akhir tahun 1990-an, kuda masih banyak digunakan untuk mengangkut pisang dan hasil pertanian lainnya. Pisang masih menjadi primadona hasil pertanian di daerah yang didominasi pegunungan dan dataran tinggi itu.
Namun sejak industri otomotif tumbuh dengan produk mobil dan sepeda motornya, kuda semakin ditinggalkan. Banyak petani atau pedagang beralih menggunakan sepeda motor untuk mengangkut pisang dan hasil pertanian lainnya dari kebun ke pasar.
Kondisi tersebut berlanjut ketika pengusaha tambang mulai merambah kebun-kebun warga pisang warga dan menggeruk batubara yang banyak terdapat di dalamnya. Selain menjual lahannya pada pengusaha tambang, warga juga banyak yang mengganti kebun pisangnya dengan karet karena dinilai lebih menguntungkan daripada mempertahankan pohon pohon pisang mereka.
Tak hanya itu, lanjutnya, serangan hama pisang yang pernah menyerang massal berdampak pada turunnya kwantitas hasil panen para petani. Alhasil, satu persatu warga menjual kuda-kuda mereka. Kuda Sungkai yang dulu jumlahnya mencapai ribuan berkurang dan mendekati kepunahan. Hanya sedikit warga yang masih bertahan menggunakan kuda sebagai sarana angkutan.
Salah satu warga yang masih memepertahankan dan menggunakan kuda adalah Saadilah. “Kuda yang masih ada sekarang jumlahnya mungkin tak lebih dari 50 ekor. Di Desa Batung tempat saya tinggal kini hanya dua warga yang masih memelihara kuda padahal dulu hampir semua warga punya,” katanya.
Tak dapat mengendarai sepeda motor, menjadi alasan utama Saadillah tetap menggunakan tenaga kuda. Selain itu menurutnya, memelihara, merawat, dan menggunakan kuda lebih mudah dibanding sepeda motor. Cukup dengan memberinya rumput dan memberinya jamu dan telur ayam kampung sebulan sekali untuk menjaga kesehatan dan stamina kuda.
Kuda, atau curun dalam bahas Madura, kata Saadilah, dapat digunakan di segala medan. Terlebih lagi wilayah yang didominasi pegunagan dan dataran tinggi seperti Kecamatan Sambung Makmur. “Sering juga pemilik kebun menyewa kuda untuk membawa hasil panen dari kebun dibawa ke pinggir jalan karena tak ada akses jalan masuk kesana. Hanya kuda solusinya,” kata Saadilah. (rudiyanto)
Meriah di Peringatan Maulid Nabi.
Selain masih difungsikan sebagai sarana angkutan, di Desa Baliangin, Kecamatan Sambung Makmur, kuda-kuda yang masih ada juga digunakan untuk memeriahkan tradisi Mauludan yang digelar setiap tanggal 12 Maulud. Pada bulan Maulud setiap tahunnya, Pondok Pesantren Al Ihsani yang ada di desa tersebut rutin meluluskan beberapa santrinya.    
Santri pria yang lulus, kata Muaddin, salah seorang warga Desa Baliangin, menyewa kuda-kuda itu. Kuda kemudian dihias dengan berbagai aksesoris dari kain dan kertas berwarna mencolok. Kuda yang sudah dihias digunakan dalam konvoi mengelilingi pondok pesantren. “Harga sewanya antara Rp1-1,5 juta,” katanya.
Tradisi Mauludan sekaligus merayakan kelulusan santri itu, kata Muaddin, sudah berlangsung rutin selama 17 tahun.  “Di desa kami juga masih sering menyelenggarakan lomba pacuan kuda. Biasanya dalam rangka memeringati hari kemerdekaan,” kata Muaddin. (rudiyanto)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar